![]() |
![]() |
[Uncluster/Interview]---Setelah malang melintang di berbagai gigs hingga menjadi opening Missery Signal saat konsernya di Jakarta, A.L.I.C.E akan segera merilis EP di Bulan Juli. Lima lagu yang ada di dalamnya akan menjadi sebuah fenomena baru dalam scene underground di Indonesia. Rencananya mereka juga akan menjadi salah satu band pembuka dalam konser Shai Hulud di Jakarta. Berikut obrolan uncluster bersama Miko (vokal), Dika (gitar), bobby (drum), dan samsu (bass).
uncluster: Jadi nama A.L.I.C.E itu maknanya apa ?
Samsu: Sebenarnya ALICE aja dibacanya, bukan apresiasi dari apapun, estetika aja, Dika tuh yang bikin.
Dika: Penempatan titik ga ada maksud apa-apa, penempatan titik itu hanya aksen, terus arti dari A.L.I.C.E juga ga ada arti apa-apa.
uncluster: Tiga kata yang mendeskripsikan musik A.L.I.C.E?
Dika: Cult, epic, dark.
Samsu: Beringas, nakal, youth.
Bobby: Rock, ugal-ugalan, primitif.
Mik: Kasar, happy, agresive.
uncluster: Saat manggung mana yang lebih penting, skill atau sound?
Miko: Performance, kalo menurut saya kalo lagi manggung sound-nya terdengar kasar itu lebih asik.
Dika: Visual, jadi apa yang dilihat penonton dengan karakter musik A.L.I.C.E tuh dapet lah gitu.
uncluster: Influence?.jpg)
Dika: Komunal, Pitfall, Seringai, Puppen, The Milo, Baroness, converge lah terutama dalam main gitar.
Samsu: The Beatles, Refused, Kontaminasi Kapitalis
Bobby: Band yang mengutamakan performance, galak, seperti apa yah...banyak lah pokoknya
Miko: Ghaust, Converge, Isis. Lokal paling hark its crawling tar tar, Domestik doktrin.
uncluster: Jika berbicara tentang trend musik untuk Indonesia khususnya Bandung, menurut kalian siapa yang paling dan sangat berperan dalam membuat trend?
Dika: Kalo di Bandung kayanya trendnya kan Death Metal, kaya Jasad, Disinfected.
Samsu: Kayanya kalo trend kan di tiap scene punya ya, banyak juga sih, ngga bisa kita nyebutin satu band terus itu bisa ngewakilin Bandung, jadi masing-masing scene punya local hero-nya
uncluster: Untuk saat ini, apa tema yang menurut kalian tepat untuk karya kalian?
Dika: Hardcore, agresive, heavy, arahnya emang pengen beda sama band lain pada umumnya.
Miko: Lebih ke psychedelic.
Dika: Epic sih, lawan kata dari modern lah, ini kebalikannya, primitif.
uncluster: Band lokal yang menurut kalian sangat reprentatif ?
Dika: Emang rata – rata kan band Bandung banyak dijadikan acuan, kaya Burger Kill, ya banyak lah
Samsu: Angsa dan Serigala bagus tuh
Dika: Ghaust, setiap genre adalah yang mewakilinya
uncluster: Jika ditawari kolaborasi, kalian memilih siapa?
Samsu: Seringai, karena dulu jaman SMA kelas 1, saya, Bobby dan Billy meng-cover lagu Seringai, emang kita suka banget, waktu itu kita nganggepnya “wah ini nih beda”.
Dika: Personil Down!
Bobby: ya kan saya satu SMA sama Dika
Miko: Pengen bikin kolaborasi, baik lirik maupun musik, dengan Ari Ernesto (domestik doktrin, hark its crawling tar tar), Joko (Savor of Filth)
uncluster: Sampai saat ini udah pernah rilis apa aja?
Miko: kompilasi, 'Touching Rainbow' tahun 2006, masih SMA waktu itu.
uncluster: Biasanya kalau bikin lagu prosesnya gimana?
Miko: Kita tuh bener-bener primitif, musik mulut gitu, dari mulut baru ke gitar, hahaha. Kadang kalau kita lagi ngumpul, bikin dulu musik khayalan baru dijadiin di gitar.
Dika: Saya biasanya bikin part gitar dulu, terus baru brain storming di studio, terus lirik juga digarap di studio, soalnya vokalisnya jarang bikin lirik, hahahaha.
uncluster: Moment yang paling susah saat menjalankan band ini?
Miko: Waktu, dan yang paling susah nyari record label, itu susah banget! Dulu kita ngasihin CD demo kita ke beberapa record di Bandung, cuma malah kebalikannya mereka nolak kita.
Samsu: Record apa tuh?
Miko: Ada lah! Sensor dong boy! Hahahaa! Tapi ketika kita lagi gini baru bermunculan terus ngejar-ngejar, yaudah kita bales lagi kita tolak, kita lebih suka D.I.Y, hahahaa!
uncluster: Moment manggung yang paling tidak bisa dilupakan?
Miko: Dulu di pra event SMA 2 (tiga tahun yang lalu) dulu belum Dika yang maen gitar, masih Angga, waktu itu manggung freestyle ngga tau apa gitu, jadi dia mau loncat terus jatoh, mukanya kena gitar, terus daripada malu dia pura-pura benerin ampli, tapi dia ga nyadar itu lagi ada yang ngerekam dia, itu masih ada tuh rekamannya, hahahaha!
Bobby : waktu di Hendon (Braga City walk), kita lagi maen tiba-tiba di tengah lagu Samsu ngelepas bass ngasihin ke Dika yang Dika belum jadi personil, terus Samsu malah stage dive, ga maen dia malah joget-joget bareng penonton, itu cikal bakalnya Dika bergabung juga itu, gara-gara dikasih bassnya Samsu waktu itu, Samsu-nya loncat ga main, hahaha.
uncluster: Udah berapa kali sih gonta-ganti personil?
Miko: Tetep sih dari awal Samul, Bobby, Miko, dulu gitarisnya Joko tapi dia nerusin SMA di Jakarta, terus masuk Billy. Karena Billy mempunyai sikap yang aneh, absurd gitu yah, dia memutuskan keluar dan membuat band pop dan band pop nya pun bangkar hahhaa. Terus Billy keluar masuk Dika, tahun 2008, terus Angga karena harus bekerja di luar kota jadi dia harus keluar yaudah kita ga nyari gitaris lain, Dika sendiri aja.
uncluster: Selain A.L.I.C.E pada punya band lain juga?
Miko: Sekarang sih ga punya.
Bobby: March Alive.
Samsu: Negasi itu band punk, Klub Baca Trio Angkasa, terus proyek solo, athmospheric folk gitu lah..jpg)
Dika : Tragedi, Headhunter yang berganti nama jadi Megamaut.
uncluster: Apa sih yang paling benar-benar bikin kalian menikmati nge-band di A.L.I.C.E ?
Dika: Karena performance nya bangkar yah, jadi kita semakin penasaran dan saling menasehati satu sama lain. Ngulik-ngulik sampe ngajelegur. Sebenernya ya karena nyambung satu sama lain, secara musik kita satu visi dan satu misi.
Samsu : Ketidakpuasan yang mempersatukan kita, jadi kalo manggung pengen selalu lebih baik, eh pas manggung masih gitu lagi, hahaha..
Dika : Ketidakpuasan menyatukan kita semua.
uncluster: Konsep upcoming album kalian gimana?
Dika: Dark, epic, dan cult itu. Cult itu dalam arti jarang orang yang suka tapi band ini tuh ada, kebalikan dari mainstream lah, emang kita maennya underdog.
Samsu: Tanpa meromantiskan diri sendiri ya.
uncluster: Proses pembuatan?
Dika: Mulai serius ngegarap album tuh mulai dari saya masuk, dulu mah demo terus ke mana gitu. Karena dulu konsepnya masih berubah-ubah. Terus sekarang kita ngegarap konsep yang baru, yang berbeda. Terus masuk rekaman tuh mulai Februari 2010, jadi lima lagu itu kurang dari dua shift! Kalau Burger Kill kan 100 shift, kita dua shift pun masih nyisa hahahaa.
Miko: Pokoknya cepet banget lah kemaren itu, sampai sang operator pun tertidur pulas saat kita mau take bass, tapi alhasil untuk rekaman masih sisa tiga jam, makanya orang-orang pada bengong. Tadinya pengennya cuma tracking, tapi karena dipaksa operator jadi yaudahlah mixing terus mastering. Jadi ya total sampai mastering itu lima shift lah.
Dika: Kita sengaja bikin sound yang raw, tapi bukan band noise ya, tapi terserah juga, hahaha. Kita emang suka sound yang kasar, ngga kaku, garage lah konsepnya. Prosesnya sekarang sudah beres tinggal nungguin artwork.
Samsu : Lima lagu satu shift jangan dikira terbentur masalah finansial yah! Hahahaha. Kita pengen bikin jargon baru raw-fi. Bukan masalah finansial, duit mah bisa dicari, hahahaha.
uncluster: Dalam pembuatannya, ada kendala?
Samsu : Duit lah! Hahahahaha!
Dika : Mencocokkan konsep kita dengan engineer, jadi ya jalan tengahnya 80% sih tetep dari kita lah, cuma diambil jalan tengahnya.
uncluster: Konsep artwork ?
Dika: Ya cult itu lah, simbolik, yang mengerjakan Joe (703Rock).
Miko: Psychedelic gitu lah.
uncluster: Tema lirik dalam album mendatang gimana?
Miko: Sebenarnya sih global, cuma dalam lagu 'Kontradiksi Tirani' saya melihat kondisi negara kita, orang-orang ngomongin tentang demokrasi, tentang kebebasan, faktanya di Indonesia itu omong kosong.
Dika: Saya kalo bikin lirik tuh temanya sci-fi, fiktif lah, di luar imajinasi kita, di album ini ada yang menceritakan bahwa Alien itu eksis. Ada juga tentang mesin penghancur masa depan. Terus ada tentang pengalaman nyata Miko gitu, di 'Fuck City' pengalaman Miko masa remaja hahahaha. Ya tentang lingkungan kita yang fucked up lah.
Miko: Fuck City itu saya bikin tentang gap-gap di antara band di Indonesia karena perbedaan kota asal, padahal sama-sama band Indonesia. Ya intinya buat yang suka menghina band-band dari kota lain.
uncluster: Musisi yang terlibat?
Dika: Ga ada sih ya, paling engineer kita, Edo dari Hell Beyond
uncluster: Rencananya rilis sendiri atau ada label?
Miko: masalah label kita masih nyari record, kita terima label tapi sampai full album maunya hahaha. Di EP yang mendatang ini paling rilis sendiri dengan bantuan sponsor dari teman-teman lah. Rencananya Mei tapi biasalah Indonesia, molor, hahaha, Juni atau Juli lah.[Harry Nugraha]