Screaming Bloody Murder Festival with Sum 41 in Jakarta
“This is our second time here! Thank you…thank you…thank you…thank you!” ujar Deryck ‘Bizzy D’ Whibley di sela salah satu lagunya. Malam itu (10/4) di Mata Elang International Stadium, Pantai Karnaval Ancol, Sum 41 mengajak pemuda pemudi menggila untuk kedua kalinya sejak 2008.
Kali ini band Kanada tersebut tampil dengan bendera “Screaming Bloody Murder Festival with Sum 41” untuk mempromosikan album terbarunya, Screaming Bloody Murder. Walaupun bukan performa yang rockgasmic, Sum 41 sangat menghibur di perhelatan ini.
Pee Wee Gaskins dan Gugun Blues Shelter yang dijadwalkan sebagai band pembuka batal tampil. Akhirnya para fans harus menunggu sampai pukul 20.45 saat ruangan mulai digelapkan dan nomor lawas “T.N.T.” dari AC/DC berkumandang untuk memanaskan suasana. Bibir panggung pun langsung penuh sesak.
Tak lama, beat drum tangguh terdengar sebagai tanda lagu pembuka: “Reason To Believe”. Deryck Whibley (vokal/gitar), Tom Thacker (gitar/vokal), Jason “Cone” McCaslin (Bass) dan Stevo “Stevo 32” Jocz (Drum) menyulut ruangan dengan track pertama di album barunya. Tanpa jeda, “Hell Song” melanjutkan penampilan band yang sudah berumur 16 tahun itu.
Di tengah “Over My Head”, Deryck menyentil minimnya histeria para penonton. “The last time we were here, you guys were crazier!”, ledeknya. Dia pun terus melakukan aksi-aksi ‘provokatif’ yang mengajak orang untuk menggila. Selanjutnya “We’re All To Blame”, “Waking Disaster” dan “Skumfuk” terus menghujam telinga fans.
Perjuangan Deryck cs untuk menghebohkan suasana akhirnya berhasil saat “In Too Deep” dimainkan. Lagu yang sempat booming awal 2000-an ini memaksa penonton –yang dianggap Deryck kurang ‘gila’- untuk bergoyang. Sum 41 terus memberondong dengan “Motivation”, “Sick of Everyone” dan “Screaming Bloody Murder”. Kombinasi lagu dari album lama dan baru secara tidak langsung memperlihatkan perkembangan musik Sum 41. Berawal dari pop-punk yang kental di album Half Hour of Power dan All Killer, No Filler, Sum 41 berhasil melakukan metamorfosis. Sebagai kumpulan anak metal yang ‘tersesat’, band ini mampu memperkaya musiknya dengan alternatif, rock, hardcore, hingga metal. Mesti diakui, karakter Sum 41 sedikit memudar saat ditinggal gitaris lamanya yang sekaligus pemeran penting dalam band, Dave “Brown Sound” Baksh. Walau begitu, Sum 41 tidak pantang untuk meningkatkan kadar distorsinya di album Screaming Bloody Murder.
Setelah sekitar sepuluh lagu, fun-o-meter Sum 41 semakin memuncak saat Deryck bertanya, “who wants metal fuckin’ music?!”. Band pecinta glam rock dan heavy metal ini pun langsung memainkan riff-riff dari Van Halen, Motorhead, dan Metallica dengan rapi. Seperti ingin melupakan Dave Baksh, Deryck terus memuji gitaris Tom Thacker dengan menyebut-nyebut sebagai gitaris terhebat yang bisa melakukan apa saja.
Usai bersenang-senang dengan distorsi metal, konser lanjut dengan “Underclass Hero” dan cover canggih “Paint It Black” dari The Rolling Stones. Ruangan semakin terbakar saat intro “Still Waiting” dinyanyikan. Karaoke massal berkumandang, dansa semakin gila dan Sum 41 mengucapkan selamat tinggal.
Panggung mendadak gelap dan kosong, pertanda Sum 41 akan mempersiapkan encore. Sayang, mereka sepertinya terlalu lama di belakang panggung hingga tidak sedikit penonton yang pergi dan meninggalkan acara sebelum saatnya. Setelah teriakan “we want more” membahana, Sum 41 kembali memasuki panggung dengan beat menghentak dan riff sangar. “We Will Rock You” dari Queen pun dibawakan dengan gagah.
Saat yang ditunggu telah tiba, “Fat Lip” digeber dengan aksi rap penuh semangat dari Stevo. Penonton langsung mencapai titik maksimal bersama lagu yang meledakkan nama Sum 41 di pasaran ini. Momen klimaks konser ditandai dengan lagu metal ala Iron Maiden dari album All Killer, No Filler, “Pain For Pleasure”.
Sum 41 mungkin tidak menyuguhkan aksi band rock yang meledak-ledak hingga orgasme. Tapi mereka adalah band punk dengan musik yang kaya dan karakter yang sangat fun. Paling tidak itu terlihat dari performa yang atraktif dan interaktif, ditambah komunikasi yang dipenuhi dengan kata kasar. Apalagi aksi panggung mereka didukung oleh tata cahaya yang patut diacungkan sepuluh jempol. Sayang, tata suaranya kurang mumpuni. Mengingat beberapa kali suara instrumen terdengar melampaui batas.
Konser malam itu bukanlah sebuah pertunjukan epik, tapi suatu hiburan seru yang sangat fun. Sum 41 membuktikan bahwa eksplosivitas juga bisa dicapai dengan cara sederhana. Jangan khawatir bila Anda tertinggal. Kemarin Deryck berjanji pada ratusan saksi mata di Mata Elang International Stadium. Katanya, “we’ll be back here for sure.” Wow, tiga kali? Hmm, kita tunggu saja! [Adhikasatya M./Rio Feroli]
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)






