<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Uncluster- Music Webzine&#124; News, Video, Review, Profile, Interviews, Ensiklopedia, Article :: uncluster.com :: &#187; Reviews</title>
	<atom:link href="http://www.uncluster.com/IN/uncluster/reviews/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uncluster.com</link>
	<description>Jurnalism music webzine in Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 May 2013 05:07:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>IN</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>BLUR Live at Big Sound Festival</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/blur-live-at-big-sound-festival/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/blur-live-at-big-sound-festival/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 05:11:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22475</guid>
		<description><![CDATA[Konser energik dan dipenuhi  histeria,  kalimat itu terasa cukup menggambarkan pertunjukan  Blur pada 15 Mei 2013 di Lapangan D Senayan.
Tampil setelah Van She, Tegan and Sara &#38; The Temper Trap, Blur (Damon Albarn, Graham Coxon, Alex James dan Dave Rowntree) muncul sekitar pukul 21:00 WIB yang membuat venue mendadak  dipenuhi  kor  penonton yang menyanyikan nomor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Konser energik dan dipenuhi  histeria,  kalimat itu terasa cukup menggambarkan pertunjukan  Blur pada 15 Mei 2013 di Lapangan D Senayan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tampil setelah Van She, Tegan and Sara &amp; The Temper Trap, Blur (Damon Albarn, Graham Coxon, Alex James dan Dave Rowntree) muncul sekitar pukul 21:00 WIB yang membuat venue mendadak  dipenuhi  kor  penonton yang menyanyikan nomor pembuka, &#8216;Girls and Boys&#8217;  yang terdengar hampir menutup suara Damon Albarn sendiri sebagai vokalis. Penampilan  dilanjutkan oleh beberapa nomor seperti &#8216;Popscene&#8217;, &#8216;There&#8217;s No Other Way&#8217;, &#8216;Badhead&#8217; &amp; &#8216;Beetlebum&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Di konser ini, teriakan dan (suara) baritone Damon Albarn bersama solo gitar khas Graham Coxon menjadi  dua andalan dari formula musik mereka malam itu, yang tak henti menyalurkan gaya alternative Inggris dengan kedinamisan dan kesederhanaanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Blur terlihat tampil semaksimal mungkin, sehingga dapat memuaskan fans selama 2 jam dan menutup sound yang terdengar kurang total di awal.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada lagu ke-9, Graham Coxon yang merupakan salah satu dari 15 gitaris-terbesar dalam 30 tahun terakhir versi jajak pendapat BBC, menyanyikan nomor &#8216;Coffee &amp; TV&#8217; yang muncul di album studio keenam, <em>13</em> (1999). Lagu ini menjadi semacam babak baru pada konser malam itu yang dilanjutkan oleh &#8216;Country House&#8217;, &#8216;Parklife&#8217; dan &#8216;End of a Century&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara nomor &#8216;Trimm Trabb&#8217;, &#8216;Caramel&#8217; dan &#8216;Tender&#8217; berhasil terus berbaur bersama atmosfer bertenaga yang ditunjukan band pada ribuan penggemar yang tak henti bernyanyi dan melompat sepanjang konser.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bagian encore, Blur membawakan salah satu nomor baru &#8220;Under The Westway&#8221; lagu baru yang ditulis menjelang terjual habisnya tiket pertunjukan reuni mereka di London Hyde Park (penutupan Olimpiade) pada 2009 lalu. Sekitar pukul 23 :00 Blur menutup konsernya dengan nomor ter-<em>heavy</em>, &#8216;Song 2&#8242;. [teks: Eka/foto: Ahmad Numan]</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Setlist:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Girls &amp; Boys</p>
<p style="text-align: justify;">Popscene</p>
<p style="text-align: justify;">There&#8217;s No Other Way</p>
<p style="text-align: justify;">Badhead</p>
<p style="text-align: justify;">Beetlebum</p>
<p style="text-align: justify;">Out of Time</p>
<p style="text-align: justify;">Trimm Trabb</p>
<p style="text-align: justify;">Caramel</p>
<p style="text-align: justify;">Coffee &amp; TV</p>
<p style="text-align: justify;">Tender</p>
<p style="text-align: justify;">Country House</p>
<p style="text-align: justify;">Parklife</p>
<p style="text-align: justify;">End of a Century</p>
<p style="text-align: justify;">Death of a Party</p>
<p style="text-align: justify;">This Is a Low</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Encore:</p>
<p style="text-align: justify;">Under The Westway</p>
<p style="text-align: justify;">For Tomorrow</p>
<p style="text-align: justify;">The Universal</p>
<p style="text-align: justify;">Song 2</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><img class="alignnone" title="uncluster-bigsoundfest-blur" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bigsoundfest-blur1.jpg" alt="" width="387" height="580" /><img class="alignnone" title="uncluster-bigsoundfest-blur" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bigsoundfest-blur2.jpg" alt="" width="387" height="580" /><img class="alignnone" title="uncluster-bigsoundfest-blur" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bigsoundfest-blur3.jpg" alt="" width="387" height="580" /><img class="alignnone" title="uncluster-bigsoundfest-blur" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bigsoundfest-blur.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-bigsoundfest-thetempertrap" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bigsoundfest-thetempertrap.jpg" alt="" width="580" height="387" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/blur-live-at-big-sound-festival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konser Sigur Rós di Jakarta</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/konser-sigur-ros-di-jakarta/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/konser-sigur-ros-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 04:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22460</guid>
		<description><![CDATA[Tak sedikit dari penonton konser Sigur Rós di Jakarta yang telah menonton aksi mereka sebelumnya di Fort Canning, Singapore November 2012. Tentu ada kelebihan di masing-masing konser dua negara ini, tapi bisa dibilang banyak yang sepakat  kalau pembuka konser di Jakarta lebih memukau.
Masuk ke venue, tampak layar putih menutupi seluruh area panggung. Meski ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak sedikit dari penonton konser Sigur Rós di Jakarta yang telah menonton aksi mereka sebelumnya di Fort Canning, Singapore November 2012. Tentu ada kelebihan di masing-masing konser dua negara ini, tapi bisa dibilang banyak yang sepakat  kalau pembuka konser di Jakarta lebih memukau.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke venue, tampak layar putih menutupi seluruh area panggung. Meski ada yang sudah bisa menebak apa yang akan mereka lihat nantinya, tapi sepertinya kenyataan melampui ekspektasi. Sekitar pukul 9 malam, seketika venue gelap, selang beberapa detik, Sigur Rós muncul dengan nomor ‘Yfirborð’ dan ‘Ný Batterí’ yang membelai telinga dan suguhan visual yang memanjakan mata. Histeria melihat siluet Jónsi, Goggi dan Orri di balik layar putih berbaur dengan kekaguman pada suguhan <em>video mapping</em> dengan visual yang menakjubkan dan tentu perpaduan musik sekaligus <em>angelic voice </em>milik Jónsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari 12 menit penonton menikmati karya menakjubkan ini, hingga kemudian layar dibuka dan penonton kembali histeris karena akhirnya mereka melihat langsung sosok ketiga personel. Dibutuhkan panggung yang cukup luas untuk menampung sekitar 11 personel, lengkap dengan <em>additional players</em>, serta semua instrumen sekaligus pelengkap lainnya macam beberapa lampu bohlam kuning yang disangga oleh setiap tiang. Jelas ini tidak berlebihan mengingat suguhan musik yang megah dengan kualitas sound prima lengkap dengan visual memukau yang mereka suguhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Konser ini juga jadi momen untuk mempromosikan album mendatang, <em>Kveikur</em> (rilis Juni 2013). Selain nomor pembuka ‘Yfirborð’, dari album ini mereka juga membawakan ‘Hrafntinna’, ‘Brennisteinn’ dan ‘Kveikur’. Berbeda dengan karya sebelumnya yang kebanyakan <em>ambient </em>dan<em> dream-pop,</em> di album ketujuh ini  Sigur Rós mencoba sesuatu yang baru dengan<em> sound </em>yang lebih agresif dan lebih berat, yang setidaknya ini tergambar dari<em> single </em>pertama ‘Brennisteinn’. Sejumlah penonton mengaku suka dengan karya terbaru mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski begitu, tak dipungkiri bahwa banyak yang menunggu nomor-nomor lawas mereka dari album <em>Takk, Ágætis Byrjun, </em>dan<em> ( ). </em>Tentu ini dipenuhi oleh band yang baru pertama kali menjumpai fansnya di Indonesia sejak merilis album tahun 1997 ini. ‘Vaka’, ‘Svefn-G-Englar’, ‘Sæglópur’ dan Varúð mereka bawakan hingga akhirnya intro Hoppípolla bergema. Dari sambutan penonton, jelas ini nomor favorit sebagian besar yang hadir malam itu. Di tengah lagu, Jónsi dikejutkan oleh penonton yang ikut bernyanyi. Hal yang sontak membuat para personel tersenyum ini tampaknya tak diduga oleh mereka mengingat liriknya sendiri dalam bahasa Islandia dan Hopelandic, seperti kebanyakan lagu Sigur Rós. Setelah cukup lama di atas panggung tanpa berinteraksi dengan penonton dan sibuk menekuni instrumennya, di nomor ini Jónsi akhirnya meminta penonton untuk terus bernyanyi bahkan menjadi suara latar untuk ‘Með Blóðnasir’ yang dibawakan secara<em> medley</em>. Permintaan yang sama juga terjadi di nomor berikutnya, ‘Olsen Olsen’. Setelah membawakan lagu ‘Festival’ yang juga menjadi soundtrack film James Franco, ‘127 Hours’, Sigur Rós pamit sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">‘Glósóli’ menjadi pembuka <em>encore</em> dan sekaligus pemanasan menjelang lagu penutup berjudul ‘Popplagið’. Jika Hoppípolla jadi momen yang mengharukan, maka ‘Popplagið’ yang juga bisa didengar dalam film dokumenter,<em> Screaming Masterpiece</em> jadi penutup yang megah setelah konser selama hampir dua jam. Setelah seluruh personel memberikan salam perpisahan dan menghilang satu per satu di balik panggung, penonton bergeming, bahkan sampai meminta encore kedua yang (tentu) tidak dipenuhi. Namun ini tidak mengurangi kepuasan penonton dan harapan bahwa mereka akan kembali untuk konser spektakuler lainnya. [teks: Martha/foto: Hertiana Dwi P.]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-sigurros-jakarta" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-sigurros-jakarta2.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-sigurros-jakarta" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-sigurros-jakarta1.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-sigurros-jakarta" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-sigurros-jakarta3.JPG" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-sigurros-jakarta" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-sigurros-jakarta4.jpg" alt="" width="580" height="387" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/konser-sigur-ros-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Northern Railways : KYDA</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviewsalbum/the-northern-railways-kyda/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviewsalbum/the-northern-railways-kyda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 May 2013 02:45:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Album]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22443</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh band baru untuk mempromosikan karyanya, salah satunya adalah dengan merilis mini album. Hal ini berhasil diikuti oleh kuartet indie-rock asal Bandung, The Northern Railways yang telah merilis extended play pertama mereka di bulan Mei 2013.
Berisikan 5 buah lagu dengan durasi rata-rata sekitar 3 menit tiap lagu. Mereka mencoba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" title="thenorthernrailways-KYDA" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/thenorthernrailways-KYDA.jpg" alt="" width="280" height="280" />Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh band baru untuk mempromosikan karyanya, salah satunya adalah dengan merilis mini album. Hal ini berhasil diikuti oleh kuartet <em>indie-rock</em> asal Bandung, The Northern Railways yang telah merilis <em>extended play</em> pertama mereka di bulan Mei 2013.</p>
<p style="text-align: justify;">Berisikan 5 buah lagu dengan durasi rata-rata sekitar 3 menit tiap lagu. Mereka mencoba memperkenalkan nada yang mudah dicerna, meski keseluruhan lirik lagunya berbahasa Inggris. <em>Single</em> pertamanya, “<em>Pretty Little Fire</em>” yang digadang-gadang sebagai nomor paling mewakili, dinilai kurang memiliki <em>hook</em>, karena durasinya yang terlalu pendek, yakni 2:31 menit.</p>
<p style="text-align: justify;">Distorsi garing menjadi ciri khas yang konsisten ingin ditonjolkan mengiringi suara vokalis yang dominan memakai efek. Untuk memberikan warna yang berbeda, keempat pemuda ini mengajak Meygador (Angsa &amp; Serigala) untuk menjadi vokalis tamu di lagu “<em>Reflection</em>.” Gitar akustik “<em>Living In The Silhouette</em>” menjadi alternatif lain untuk menciptakan atmosfer yang santai taktala meminum kopi di waktu senja.</p>
<p style="text-align: justify;">Band bentukan 2011 ini hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk merampungkan kelima lagunya. Mungkin saja dalam kurun waktu 24 bulan tersebut, The Strokes dan Arctic Monkeys berperan terlalu banyak ketika membentuk karakter <em>indie-rock</em> yang mereka usung. Namun, itu saja tidak cukup, referensi-lah yang harusnya lebih berperan, dengan mulai banyak mendengarkan berbagai macam musik agar tidak <em>stuck </em>di situ saja dan tentunya juga menambah jam terbang.</p>
<p style="text-align: justify;">Regenerasi memang dibutuhkan agar skena <em>indie</em> tak hanya dikuasai oleh band yang itu-itu saja, dan mungkin pengalaman akan membentuk The Northern Railways menjadi bibit yang menjanjikan. [Dean Genial Iqbal]</p>
<p style="text-align: justify;">Track List:</p>
<p style="text-align: justify;">01.  Red Eyes Moonlight               3:05</p>
<p style="text-align: justify;">02.  Reflection (feat. Meygador)  4:20</p>
<p style="text-align: justify;">03.  Living In The Silhouette        3:14</p>
<p style="text-align: justify;">04.  Pretty Little Fire                     2:31</p>
<p style="text-align: justify;">05.  Keep Your Dreams Awake     3:14</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviewsalbum/the-northern-railways-kyda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Clothing Expo 2013</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/bandung-clothing-expo-2013/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/bandung-clothing-expo-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 04:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22440</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sempat mengguncang penggemarnya di acara Bandung Berisik 13 April lalu, dan sempat mengisi di acara pergelaran metal terbesar se-Asia, Hammersonic, kembali band Hardcore, Outright membuat penggemar menguras keringat di area mosphit pada acara Bandung Clothing 2013 yang diadakan di lapangan Gasibu Bandung 28 April 2013.
Membawakan sekitar 7 lagu andalan seperti &#8216;Never Give Up&#8217;, &#8216;My [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah sempat mengguncang penggemarnya di acara Bandung Berisik 13 April lalu, dan sempat mengisi di acara pergelaran metal terbesar se-Asia, Hammersonic, kembali band Hardcore, Outright membuat penggemar menguras keringat di area mosphit pada acara Bandung Clothing 2013 yang diadakan di lapangan Gasibu Bandung 28 April 2013.</p>
<p style="text-align: justify;">Membawakan sekitar 7 lagu andalan seperti &#8216;Never Give Up&#8217;, &#8216;My True&#8217;, &#8216;To the Straight&#8217;, &#8216;Hardcore Strikes Back&#8217;, &#8216;Revolt and Refuse&#8217; dan &#8216;Super Groove Power Chord&#8217;. Outright berhasil membuat ratusan penggemar mereka melakukan <em>moshing, sliming body</em>, di area mosphit DNA Stage yang sebelumnya tidak begitu ramai oleh pengunjung.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena begitu penuh sesaknya, sempat terjadi insiden dimana salah satu metalhead mengalami luka di bagian hidungnya. Namun ucapan sang vokalis Hardy kembali membakar semangat penonton, &#8220;Mosphit merupakan area untuk menyatukan semangat, bukan tempat untuk menunjukan siapa yang paling jago.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar kurang lebih 30 menit menggetarkan Gasibu berhasil membuat semua metalheads menumpahkan keringatnya di area mosphit serta berhasil memanaskan Bandung Clothing 2013 siang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dibakar dan dibuat berjingkrak-jingkrak oleh Outright, kini penonton bisa<em> cooling down </em>sejenak sambil menikmati suguhan dari Pure Saturday. Membawakan 7 lagu andalan mereka, PS berhasil membuat penonton kompak ikut bernyanyi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta 3 hari yang sudah dimulai sejak 26 April dan berakhir pada 28 April ini telah sukses menampilkan deretan nama yang sudah tak asing. Selain dua nama di atas, ada pula Jasad, Tengkorak, Disconnected, The Sigit, Efek Rumah Kaca, White Shoes and the Couple Company, Tony Q, Rosemary, Billfold dan masih banyak lagi. Dan di hari terakhir, setelah menanti sejak sore, akhirnya band Speed Metal asal London ini pun muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski penampilan mereka molor 2 jam ke pukul 10 malam Dragon Force tetap tampil memuaskan dengan membuka penampilan lewat lagu, &#8220;Heroes Of Our Time&#8221; yang merupakan lagu lawas dari album<em>Ultra Beat Down</em>. Tiga belas lagu dari beberapa album seperti <em>Season</em>,<em> Black Fire</em> dan <em>Valley of the Damned</em> benar-benar membayar penantian penonton. Antusiasme penonton juga terlihat dari suara kompak mereka menyanyikan setiap nomor yang dibawakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak hanya penonton yang puas, tapi para personel pun tampak puas dengan apresiasi yang ditunjukkan penonton.  &#8220;You are the best fans in the world,&#8221; ujar sang vokalis, Marc Hudson. Tak heran jika kemudian mereka berjanji akan kembali lagi ke Indonesia. [Taufik Fauzi Rakhman/Dani Ramdani]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-bandcloth-puresaturday" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bandcloth-puresaturday.jpg" alt="" width="580" height="388" /><img class="alignnone" title="uncluster-bandcloth-outright" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bandcloth-outright.jpg" alt="" width="580" height="387" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-bandcloth-dragonforce" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bandcloth-dragonforce1.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-bandcloth-dragonforce" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bandcloth-dragonforce2.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-bandcloth2013" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-bandcloth2013.jpg" alt="" width="580" height="387" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/bandung-clothing-expo-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hammersonic 2013 (Day-2)</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/hammersonic-2013-day-2/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/hammersonic-2013-day-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 03:25:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22441</guid>
		<description><![CDATA[Duduk di atas hamparan rumput hijau mungkin terdengar seperti dalam video klip indie pop. Tapi, ini tempat berlabuh para metalheads Asia Tenggara. Hammersonic Festival berlanjut pada Minggu, 28 April 2013. Tampak perjuangan penonton untuk hadir dalam lawatan akbar metalheads ini. Banyak penonton dari luar kota siap membawa perbekalannya untuk kembali ke daerah masing-masing. Terlihat pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Duduk di atas hamparan rumput hijau mungkin terdengar seperti dalam video klip<em> indie pop</em>. Tapi, ini tempat berlabuh para <em>metalheads </em>Asia Tenggara. Hammersonic Festival berlanjut pada Minggu, 28 April 2013. Tampak perjuangan penonton untuk hadir dalam lawatan akbar <em>metalheads</em> ini. Banyak penonton dari luar kota siap membawa perbekalannya untuk kembali ke daerah masing-masing. Terlihat pada bagian terdepan, mereka bergiliran menjaga ransel bawaan yang ditumpuk di dekat pagar pembatas panggung. Ada pula yang serius menyaksikan As I Lay Dying sambil memasak mie instan dengan kompor kecil yang biasa digunakan saat berkemah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari kedua, energi penonton tidak mengendur. Jumlah penonton pun terlihat membengkak dibanding hari sebelumnya. Cradle of Filth menjadi puncak penutup segala kebahagiaan festival dua hari ini. Dari musisi lokal, Seringai menjadi pemuka yang mengundang <em>metalheads</em> berpesta pora dengan &#8220;Program Party Seringai&#8221;. Isu masalah kesulitan perizinan konser musik metal di Bandung pun dibahas di sini. Lagu &#8220;Dilarang di Bandung&#8221; pun menegaskan masalah ini kembali. &#8220;Individu Merdeka&#8221; seperti menjadi harapan untuk hambatan yang dialami musisi metal.</p>
<p style="text-align: justify;">Band <em>detah metal</em> asal Perancis, Gorod sepertinya kegirangan melihat sambutan meriah penonton Hammersonic. Berkali-kali vokalis, Juliene Deyres mengucapkan terima kasih. &#8220;State of Secret&#8221; mengajak penonton memanaskan debu-debu<em> circle pit</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">As I Lay Dying membuat penonton sigap membentuk <em>wall of death</em>. &#8220;Forever&#8221; hingga &#8220;Forgotten&#8221; dan &#8220;Through Struggle&#8221; disambut cepat dengan lompatan yang meramaikan<em> circle pit</em>. Aksi berbagi<em> merchandise</em> pun membuat keriuhan tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari semua penampil Hammersonic, Destruction menjadi band paling menghibur dengan celetukan bahasa Indonesia yang jenaka. Setelah bertanya retorik, &#8220;Hammersonic bagus?&#8221;, Marcel Schirmer sang vokalis bertanya kocak, &#8220;Are you mabok?&#8221; Sontak mengurai derai aksi liar menjadi tawa. &#8220;Kami kembali to destroy,&#8221; ujar raja Teutonic<em> thrash metal</em> asal Jerman ini. &#8220;Carnivore&#8221; hingga &#8220;Curse of the God&#8221; menunjukan kualitas musik band kawakan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Cannibal Corpse membawa suasana kelam setelah tertawa-tawa bersama Destruction. &#8220;Death Walking&#8221;, &#8220;Terror&#8221;, dan &#8220;Hammer Smashed Face&#8221; membuat penonton sibuk<em> slamdancing</em>. Sekali lagi, mau tarian ritual metal apa saja hadir di sini. Para musisi yang tampil pun bisa <em>request</em> mau meminta penonton bergaya apapun. Benar-benar atmosfer yang membuat hati gembira. &#8220;Meat Hook Sodomy&#8221; dan &#8220;Addicted to Vaginal Skin&#8221; memanjakan penonton yang sempat ditinggal rindu setelah <a href="http://www.uncluster.com/IN/news/cannibal-corpse-live-in-jakarta-2/" target="_blank">penampilannya Oktober 2012 di Senayan, Jakarta</a>. &#8221;Tomb of the Mutilated&#8221; yang menuai kontroversi juga dibawakan. Sampul album ini dinilai sadis sehingga muncul sensor hingga pelarangan edar dari beberapa negara. Kendati penonton dibuat terlena, vokalis George Fisher sempat menyindir tata suara panggung Hammer. &#8220;Ini tampak sudah tua,&#8221; ujar Fisher mengarah ke monitor tata suaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cradle of Filth datang membangun suasana terperangkap dalam film horor Exorcist. Lengkingan jeritan Dani Filth terdengar seperti teror teriakan kerasukan. Band ekstrem metal ini sempat meminta maaf karena ada gangguan teknis. Tapi, tetap dengan suara yang menyeramkan ala bangkit dari kubur.  &#8221;Funeral in Carpanthi&#8221; dan &#8220;Nymphetamine (fix)&#8221; membuat penonton headbanging keras. Dosisnya pun ditambah dengan &#8220;From Cradle to Enslave&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Berakhirlah kebahagiaan hari itu setelah Cradle of Filth menutup malam.Kendati sempat ada kendala teknis, secara keseluruhan tata suara Hammersonic menggelegar dan memukau. Salut juga untuk pawang hujan yang sanggup menahan cerah hingga penonton bisa menyaksikan terang bulan di langit Ancol. Tata panggung dan lampu, serta pilihan venue pantas menambah daftar keberhasilan festival yang mengeklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara untuk musik metal. Tapi, rasanya klaim ini tidak berlebihan untuk menandai kelas Hammersonic dalam peta musik metal Asia Tenggara. Sebuah pesta pora musik metal yang membanggakan. [<a href="http://jurnalin.wordpress.com/" target="_blank">Karlina Octaviany</a>]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic-seringai" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-hammersonic-seringai.jpg" alt="" width="580" height="387" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic-Gorod" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-hammersonic-Gorod.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic-ASILAYDYING" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-hammersonic-ASILAYDYING.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic-cannibalcorpse" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-hammersonic-cannibalcorpse.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic-cannibalcorpse" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-hammersonic-cannibalcorpse1.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic-cradleoffilth" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-hammersonic-cradleoffilth.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic2013day-2" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/05/uncluster-hammersonic2013day-2.jpg" alt="" width="580" height="348" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/hammersonic-2013-day-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hammersonic Festival 2013</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/hammersonic-festival-2013/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/hammersonic-festival-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Apr 2013 03:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22435</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar lokasi Ancol rasanya membuat semangat turun sejenak. Apalagi sebelumnya Hammersonic Festival berada di Senayan yang  strategis berada di pusat kota Jakarta. Selain kesulitan mencari transportasi umum pada malam hari, biaya masuk Ancol juga berlapis dari manusia hingga kendaraan. ECO Park menjadi pilihan venue yang unik. Lokasi wisata keluarga yang manis dikepung barisan kaos hitam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mendengar lokasi Ancol rasanya membuat semangat turun sejenak. Apalagi sebelumnya Hammersonic Festival berada di Senayan yang  strategis berada di pusat kota Jakarta. Selain kesulitan mencari transportasi umum pada malam hari, biaya masuk Ancol juga berlapis dari manusia hingga kendaraan. ECO Park menjadi pilihan venue yang unik. Lokasi wisata keluarga yang manis dikepung barisan kaos hitam pada Sabtu, 27 April 2013.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sampai di lokasi, rasa kesal dengan Ancol langsung terobati. Masuk gerbang bertuliskan Hammersonic menanjak bukit kecil. Langkah cocok sekali diiringi &#8220;Run to the Hills&#8221; dari Iron Maiden. Begitu turun menuju <em>venue </em>seperti melihat bukit-bukit kecil Teletubbies. Bagian terdepan disambut tenda-tenda aneka makanan. Beberapa metalheads pun tampak mengajak anak-anaknya untuk berjalan-jalan di sini. Sungguh pemandangan yang manis. Ini seperti jambore piknik metal nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Atmosfer Hammersonic selalu menjadi bagian terpenting dari festival ini. Sebagian besar yang datang memiliki kecintaan yang sama pada musik metal. Hanya dengan isyarat jari membentuk lingkaran dari Obituary, penonton langsung paham maknanya. Sudah satu bahasa. Mau tarian macam apa? Moshing, headbanging hingga wall of death ada di sini. Rasanya band di atas panggung pun terhibur melihat lubang circle pit berisi aksi liar menganga di deretan penonton.</p>
<p style="text-align: justify;">Debu-debu mengepul Lapangan D Senayan dulu berubah menjadi rumput hijau dan kering ECO Park. Udara yang relatif sejuk juga membantu melepas lelah dan mengeringkan peluh. Berbeda dengan Pantai Karnaval, sinyal operator komunikasi juga membantu eksistensi acara ini di dunia maya. Banyak penonton yang tampak meng-update statusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kualitas tata suara panggung festival musik metal terbesar di Asia Tenggara ini juga membanggakan. Walau terdengar jelas perbedaan kualitas suara panggung Sonic yang lebih baik dibanding Hammer. Ini terdengar mengganggu ketika Dying Fetus tampil. Tapi, perlahan-lahan membaik menjelang akhir penampilannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari barisan lokal, hari pertama Hammersonic diperkuat dengan Burgerkill, Dead Vertical, Power Metal, dan Edane. Menambah romantis malam minggu di taman hijau, ada pertunjukkan kembang api yang menjadi selingan sebelum Dyscarnate. Death metal dari Italia, Hour of Penance memberi sengatan panas pada malam bebas hujan ini. Sambutan headbang mengiringi sampai Paolo Pieri (vokalis) mengucap, &#8220;Thank you, Indonesia!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Depan panggung Hammer semakin padat menyambut Dying Fetus. Tidak peduli band ini sudah pernah manggung di Solo sebelumnya Kontingen death metal dan grind core asal Maryland, Amerika Serikat ini tetap memanaskan circle pit dengan &#8220;Praise the Lord (Opium of the Masses)&#8221;. Sayang, tata suara panggung Hammer kurang mengeluarkan hantaman drum Trey Williams.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiran supergroup metal Lock Up memberikan penghormatan dengan cover lagu Terrorizer. Lagu ini seperti sebuah tribute untuk anggota Lock Up, Jesse Pintado (Napalm Death, Terrorizer) yang telah meninggal pada 2006. Ketika personel Napalm Death, Dimmu Borgir, At The Gates, dan Criminal bergabung membentuk band, para penggemarnya pun berpesta pora menari di atas rumput. Lock Up mendedikasikan lagu khusus untuk penonton perempuan, &#8220;Triple Sick Suck Angels&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyegaran telinga dan mata ketika Epica dari Belanda menyambangi panggung Hammer. Setelah tempaan grindcore bertubi-tubi, harmonisasi symphonic metal memberikan ketenangan sebelum digempur Obituary. Vokalis perempuan Simone Simmons menghiasi malam dengan kelembutan mezzo sopran di tengah serbuan growl seharian. Band ini mengingatkan pada Lacuna Coil yang ternyata memang menjadi inspirasi Simmons. Jika tahun lalu ada Doris Yeh (Chthonic) yang membuat penonton meleleh, kali ini ada Simmons dengan bustier kulit ala Xena The Warrior Princess.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali pada death metal, kualitas vokal John Tardy dari Obituary ini teramat mengagumkan untuk pria kelahiran 1968. Apalagi ditambah melihat rambut panjangnya yang tampaknya bebas kusut setelah headbanging terus-menerus. Kualitas prima Obituary sebagai dedengkot death metal jelas terlihat dari reaksi penonton yang sibuk melompat hingga crowd surfing sepanjang pertunjukkan. &#8220;Intoxicated&#8221; dan &#8220;Infected&#8221; dibawakan, rasanya aneka racun Obituary sudah dilepas ke udara untuk mengisi sekat-sekat keliaran penonton malam itu. Olahraga tengah malam ini ditutup dengan DJ Indra7 yang menanamkan terus campuran metal hingga akhir melangkah pulang. [<a href="http://jurnalin.wordpress.com/" target="_blank">Karlina Octaviany</a>]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic2013" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-hammersonic2013(1).jpg" alt="" width="580" height="435" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic2013-dyingfetus" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-hammersonic2013-dyingfetus.jpg" alt="" width="580" height="364" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic2013-dyingfetus" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-hammersonic2013-dyingfetus1.jpg" alt="" width="580" height="435" /><img class="alignnone" title="uncluster-hammersonic2013-obituary" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-hammersonic2013-obituary.jpg" alt="" width="580" height="435" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/hammersonic-festival-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Road to Big Sound Festival</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/road-to-big-sound-festival/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/road-to-big-sound-festival/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 03:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22434</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai pemanasan sebelum pesta besar di Big Sound Fest pada bulan Mei nanti, Jakarta menikmati penampilan dari The Radio Dept, Delphic dan The Kooks di Tennis Indoor Senayan Rabu (24/04).
Event yang berjudul &#8216;Road to Big Sound Fest&#8217; ini dibuka dengan penampilan The Radio Dept., tepat pukul 7 malam. Band asal Swedia ini tampil cukup maksimal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagai pemanasan sebelum pesta besar di Big Sound Fest pada bulan Mei nanti, Jakarta menikmati penampilan dari The Radio Dept, Delphic dan The Kooks di Tennis Indoor Senayan Rabu (24/04).</p>
<p style="text-align: justify;">Event yang berjudul &#8216;Road to Big Sound Fest&#8217; ini dibuka dengan penampilan The Radio Dept., tepat pukul 7 malam. Band asal Swedia ini tampil cukup maksimal mengingat mereka baru saja mendarat di Jakarta Rabu sore. Sayangnya, tata panggung dan cahaya kurang mendukung.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah penonton bergoyang kecil dengan The Radio Dept, Delphic naik panggung dan mengajak penonton berdansa kencang. Digawangi oleh James Cook, Matt Coksedge, Dan Hadley dan Richard Boardman, Delphic membawakan 12 lagu dari dua album mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibuka dengan &#8216;Baiya&#8217; dan langsung disambung dengan &#8216;Halcyon&#8217;, Delphic berhasil mengajak penonton melarikan diri sebentar dari rutinitas kehidupan. Band asal Inggris ini juga membawakan &#8216;Doubt&#8217;, &#8216;Clarion Call&#8217;, &#8216;Memeo&#8217;, &#8216;This Momentary&#8217;, dan &#8216;Atlas&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">James Cook, sang vokalis, tidak banyak berbicara malam itu, namun dia tidak lupa menyapa dan berterima kasih pada penonton. “Terima kasih, senang sekali bisa hadir di Jakarta bersama kalian,” ujarnya di tengah-tengah konser.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikutnya giliran top<em> headliner</em> malam itu untuk tampil, The Kooks. Band asal Inggris yang berdiri di tahun 2004 itu memberikan penampilan yang cukup ciamik dan menghibur. The Kooks pertama kali dikenal luas saat album pertama mereka<em> Inside In/Inside Out</em> dirilis di 2006. Tujuh tahun setelah itu, akhirnya mereka mendarat di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Luke Pritchard, Hugh Harris, Peter Denton, dan Paul Garred tampil enerjetik dan membawakan sekitar 15 lagu dari tiga album.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyapa penonton, &#8216;Ooh La&#8217; langsung menggebrak dan penonton mulai bergoyang serta melompat bersama. Luke yang tampil mengenakan jaket batik di setengah penampilan, menguasai panggung dengan baik dan berhasil memesona penonton, terutama saat ia tampil solo ditemani sebuah gitar dan membawakan &#8216;Seaside&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka juga membawakan &#8216;Sofa Song&#8217;, &#8216;Is It Me&#8217;, dan tentu saja &#8216;She Moves in Her Own Way&#8217; yang berhasil mengajak penonton untuk bernyanyi bersama. Ditutup dengan &#8216;Naive&#8217;, The Kooks berhasil menebus penantian 7 tahun fans nya di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang patut ditiru oleh promotor lain, Dyandra Entertainment  berhasil menciptakan acara yang bebas asap rokok. Setiap kali ada penonton nakal yang pura-pura tak mengerti arti “No Smoking” menyalakan rokok, seorang <em>security guard</em> menyapa dan membuat mereka mematikan rokoknya. <em>Nice, eh? </em>[teks: Adinda Silitonga/foto: Hertiana Dwi P.]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-theradiodept" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-theradiodept.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-theradiodept" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-theradiodept1.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-delphic" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-delphic.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-delphic" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-delphic1.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-thekooks" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-thekooks1.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-thekooks" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-thekooks2.jpg" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-thekooks" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-thekooks4.jpg" alt="" width="580" height="387" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/road-to-big-sound-festival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jacked Tour Live in Jakarta</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/jacked-tour-live-in-jakarta/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/jacked-tour-live-in-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 02:55:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22401</guid>
		<description><![CDATA[Skena Electronic Dance Music (EDM) di Indonesia khususnya di Jakarta seperti tak pernah berhenti digelar hampir tiap akhir pekan. Semisal tadi malam (13/4) di kawasan Eco Park Ancol, Nick van de Wall atau lebih dikenal dengan nama Afrojack ini sesungguhnya menjadi alasan utama gerombolan party goers rela mengantri dan menempuh jarak yang cukup jauh untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Skena <em>Electronic Dance Music </em>(EDM) di Indonesia khususnya di Jakarta seperti tak pernah berhenti digelar hampir tiap akhir pekan. Semisal tadi malam (13/4) di kawasan Eco Park Ancol, Nick van de Wall atau lebih dikenal dengan nama Afrojack ini sesungguhnya menjadi alasan utama gerombolan <em>party goers</em> rela mengantri dan menempuh jarak yang cukup jauh untuk mencapai <em>venue</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dipercaya menjadi <em>opening act</em> Swedish House Mafia beberapa bulan yang lalu di tempat yang sama, Mikey Moran beruntung dipercaya kembali menjadi pembuka <em>rave party</em> yang digelar oleh Kuta Entertainment ini. Walaupun sebagian penonton masih memilih untuk di luar, namun <em>setlist </em>Mikey menjadi <em>foreplay</em> yang cukup baik dengan <em>remix </em>beberapa lagu dari Quintino, R3hab dan Afrojack.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>It’s holland night</em>, satu paket musik dari negeri kincir angin dimulai dengan Apster. Klimaks permainan Apster adalah saat ia memainkan nomor<em> </em>&#8216;Bucklekneez Clarity&#8217;, beberapa penonton &#8216;tertangkap&#8217; sudah <em>out of control</em>. Mungkin mereka sudah tak sabar untuk <em>show off</em> di tengah-tengah keramaian yang sejujurnya masih belum larut malam itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Rising star </em>malam itu sangat tepat jika disematkan pada diri Quintino, ia adalah sosok yang sangat ditunggu khususnya oleh kaum hawa, sikap dingin yang ia tunjukkan saat memainkan lagu-lagunya menjadi kekhasan tersendiri. Rilisannya yang terbaru bersama Alvaro yakni &#8216;World In Our Hands&#8217; menjadi kejutan untuk yang datang malam itu, meski terdengar membosankan di pertengahan dan juga nomor &#8216;Epic&#8217; yang selama ini dikenal menjadi <em>mashup</em> hits dari seorang Quintino.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu trio Sherman bersaudara yang tergabung dalam Shermanology menandai malam yang sudah mendekati puncaknya ini. Andy Sherman selaku pengatur ritme begitu pintar dalam memainkan emosi para penonton yang hadir malam itu apalagi dengan iringan vokal yang prima dari Dorothy dan Leon Sherman. Nomor &#8216;Can’t Stop Me Now&#8217; yang menjadi andalan pun tak lupa untuk dimainkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Shermanology <em>signing out</em>, teriakan-teriakan memanggil Afrojack pun mulai terdengar. Visual ciamik menjadi awal kemunculan Afrojack malam itu, &#8216;Take Over Control&#8217; langsung diputar namun antiklimaks ketika ia mulai memainkan <em>remix</em> &#8216;Gangnam Style&#8217;. Ya, sepatutnya lagu tersebut memang sudah lewat dari masanya bahkan penyanyi aslinya pun mengakui itu saat di Future Music Festival di Malaysia lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, bukan Afrojack jika tidak memberi kejutan. &#8216;As Your Friend&#8217;, &#8216;Give Me Everything&#8217;, &#8216;The Way We See the World&#8217;, &#8216;Rock The House&#8217; dan &#8216;No Beef&#8217; mampu memulihkan kekecewaan itu. <em>Save the best for last, </em>DJ muda kebanggaan Indonesia, Angger Dimas, menjadi penutup luar biasa malam itu walaupun beberapa penonton tampak kecewa karena terlalu cepat Angger diberi waktu tampil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai pagi menjelang, tidak ada raut kelelahan tampak dari penonton. Kesuksesan penyelenggara pun harus diakui walaupun masih ada kekurangan yang masih bisa dimaklumi. <em>But it’s literally, jacked</em>!</p>
<p style="text-align: justify;">[Teks: Rizki Wardhana/ Photo: Danny Prakoso dan <a href="http://www.mangmoty.com">Michael Timothy</a>]</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="/uncluster-jackedtour" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-jackedtour1.jpeg" alt="" width="580" height="386" /><img class="alignnone" title="uncluster-jackedtour" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-jackedtour2.JPG" alt="" width="580" height="387" /><img class="alignnone" title="uncluster-jackedtour" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-jackedtour3.JPG" alt="" width="580" height="379" /><img class="alignnone" title="uncluster-jackedtour" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-jackedtour4.JPG" alt="" width="580" height="375" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/jacked-tour-live-in-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;For My Parents&#8217;, Konser MONO di Bandung</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/for-my-parents-konser-mono-di-bandung/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/for-my-parents-konser-mono-di-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Apr 2013 03:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22385</guid>
		<description><![CDATA[
Band instrumental asal Jepang ini datang untuk kedua kalinya ke Indonesia. Jika sebelumnya mereka tampil di Balai Sarbini Jakarta, pada 06 April kemarin mereka menemui penggemar di Bandung, tepatnya di Dago Tea House outdoor theatre yang malam itu tak luput dari guyuran hujan.
For My Parents, tajuk tur ini digelar di kota yang memang penggemar Mono [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone" title="uncluster-mono-bandung" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/uncluster-mono-bandung.JPG" alt="" width="580" height="283" /></p>
<p style="text-align: justify;">Band instrumental asal Jepang ini datang untuk kedua kalinya ke Indonesia. <a href="http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/an-exclusive-night-with-mono/" target="_blank">Jika sebelumnya mereka tampil di Balai Sarbini Jakarta</a>, pada 06 April kemarin mereka menemui penggemar di Bandung, tepatnya di Dago Tea House <em>outdoor theatre</em> yang malam itu tak luput dari guyuran hujan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>For My Parents</em>, tajuk tur ini digelar di kota yang memang penggemar Mono terbilang banyak di sini, meski malam itu juga ada penonton dari luar kota.  Pionir <em>nu-gaze</em> asal Bandung, Elemental Gaze pun pernah tercatat sebagai pembuka  Mono saat tampil di Malaysia. Tentu, ini akan jadi pengalaman tersendiri, belum lagi, musik <em>post-rock</em> begitu digandrungi oleh masyarakat Bandung.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Open gate</em> seharusnya sudah dibuka pukul 7 malam, namun karena  hujan yang tidak berhenti, acara baru dimulai sekitar 2 jam kemudian. Antusiasme penonton tampak dari kerelaan mereka berbasah-basahan hanya dengan memakai jas hujan dan payung untuk menikmati alunan musik Mono sambil duduk. Sisanya memilih tempat yang teduh sehingga hanya bisa menonton dari kejauhan. Di atas panggung pun tidak ada hiasan atau <em>backdrop</em>, yang ada hanyalah latar belakang pemandangan malam hari daerah Bandung Utara.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 21:00 “<em>Legend</em>” kemudian dimainkan sebagai ucapan selamat datang bagi <em>fans</em> Mono. Mereka terlihat kalem dan begitu menghayati lagu-lagu yang dimainkan, tidak ada sepatah katapun yang terlontar entah itu sekedar menyapa atau ucapan basa-basi. Nyatanya, apalah arti sebuah kata bagi band instrumental ini. Tentu musiknya sendiri lebih bisa menyampaikan sesuatu yang tersirat, memberikan pengalaman spiritual tersendiri bagi pendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang penampilan, semua personel Mono hanya duduk di kursi seakan menghiraukan antusiasme yang hebat dari penonton ketika melawan cuaca yang begitu dingin dan hujan yang terus membasahi bumi. Satu-satunya yang terlihat berdiri hanyalah sang pembetot bass, satu-satunya personel perempuan yang secara bergantian memainkan gitar bersenar empat dan kibor. Meski terdengar &#8216;timplang&#8217; karena tidak ada suara bass di beberapa lagu, namun justru lagu itu menjadi lebih berkarakter ketika didengar secara <em>live</em>. Tak mau ketinggalan sang penggebuk drum pun sempat beberapa kali memainkan instrumen <em>glockenspeil</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Durasi 90 menit di atas panggung dengan total 9 lagu dibawakan untuk memuaskan para penggemar Mono. Tidak ada <em>encore</em>, karena selepas lagu “<em>Everlasting Light</em>” kesemua personel berpamitan seraya membungkukkan badan mengucapkan terima kasih kepada yang hadir malam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saja jika tidak terjadi hujan, konser ini akan begitu maksimal mencapai puncak dan tentu saja menyedot lebih banyak orang untuk datang, namun apa mau dikata, air dari langit memang enggan berhenti. Hal senada diutarakan oleh Hadi, “Mono keren abis. Saya baru liat penampilan mereka, cuma sayang agak terganggu sama hujan.”<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Arigatto gozaimasta, Mono! </em>[Dean Genial Iqbal]</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Setlist</em>:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Legend</li>
<li>Burial At Sea</li>
<li>Dream Odyssey</li>
<li>Pure As Snow (Trails Of The Winter Snow)</li>
<li>Follow The Map</li>
<li>Unseen harbor</li>
<li>Ashes In The Snow</li>
<li>Halycon (Beautiful Days)</li>
<li>Everlasting Light</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviews-event/for-my-parents-konser-mono-di-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apparat : Kried Und Frieden (Music For Theatre)</title>
		<link>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviewsalbum/apparat-kried-und-frieden-music-for-theatre/</link>
		<comments>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviewsalbum/apparat-kried-und-frieden-music-for-theatre/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2013 03:40:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews Album]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uncluster.com/IN/?p=22372</guid>
		<description><![CDATA[
Perkembangan referensi musik Sascha Ring kian menunjukkan kemajuan. Kried Und Frieden (Music For Theatre), album anyar dari project one-man show-nya, Apparat bisa menjadi bukti.
Dua tahun vakum rupanya membuat musisi electronic asal Jerman ini menyiapkan sesuatu yang mungkin bisa dianggap sebagai terobosan baru, pemikiran musik yang out of the box. Muncul pertama kali tahun 2001, Sascha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" title="Apparat" src="http://rp.uncluster.com/uc_image/wp-content/uploads/2013/04/Apparat-KriegUndFriedenMusicforTheatre.jpg" alt="" width="280" height="280" /></p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan referensi musik Sascha Ring kian menunjukkan kemajuan. <em>Kried Und Frieden (Music For Theatre)</em>, album anyar dari project <em>one-man show-</em>nya, Apparat bisa menjadi bukti.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua tahun vakum rupanya membuat musisi <em>electroni</em>c asal Jerman ini menyiapkan sesuatu yang mungkin bisa dianggap sebagai terobosan baru, pemikiran musik yang <em>out of the box</em>. Muncul pertama kali tahun 2001, Sascha memperkenalkan musik IDM yang kental dan membuat publik kagum ketika ia berkolaborasi bersama Modeselektor dan Ellen Allien. Sampai akhirnya membentuk karakter baru di <em>The Devil’s Walk</em> (2011) yang menggabungkan unsur analog dan digital, bahkan saat pementasan, Apparat lebih banyak tampil sebagai band.</p>
<p style="text-align: justify;">Di <em>Kried Und Frieden (Music For Theatre)</em>, Apparat mengalami perubahan yang cukup drastis. Unsur instrumen konvensional kian mendominasi. Dan lebih memilih bereksperimen dengan musik orkestra, <em>avant-garde</em>, <em>ambient</em> dan musik klasik. Meski begitu, beberapa lagu dibuat dengan versi berbeda. Contohnya, lagu “44 (<em>original version</em>)” dengan sayatan biola yang mengiris dan “44 (<em>noise version</em>)”. Tak lupa ada “<em>K&amp;F Thema</em>” yang mempunyai teknik memetik <em>string</em> – yang tentu saja ini dilakukan melalui instrumen asli. Unsur vokal pun dirasa minim, tapi di lagu “<em>LightOn</em>” totalitasnya untuk bernyanyi patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, oktaf-oktaf nada vokal tinggi berhasil diraih oleh Sascha.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin bagi sebagian pengikut album-albumnya akan merasa kecewa, karena rilisan ini merupakan kemunduran dari era digital. Namun di sisi lain, ini dapat merperkaya pengetahuan pendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jerman memang dikenal sebagai salah satu negara yang didominasi oleh musik komputer. Bahkan sang pionirnya, Kraftwerk lahir di sana. Hanya saja tidak ada yang seproduktif Apparat, selain banyak melakukan terobosan, pria berusia 34 tahun itu telah banyak merubah paradigma tentang musik <em>electronic</em>. [Dean Genial Iqbal]</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Tracklist:</span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>44                                                        2:38</li>
<li>44 (Noise Version)`                          6:47</li>
<li>LightOn                                              5:24</li>
<li>Tod                                                     2:47</li>
<li>Blank Page                                        4:40</li>
<li>Pv                                                        6:47</li>
<li>K&amp;F Thema (Pizzicato)                    3:12</li>
<li>K&amp;F Thema                                       4:19</li>
<li>Austerlitz                                           3:21</li>
<li>A Violent Sky                                     5:11</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uncluster.com/IN/reviews/reviewsalbum/apparat-kried-und-frieden-music-for-theatre/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
