Profiles

Maruli Hasiholan, Konsisten dengan Musik Punk

Meski tak banyak yang mengenal namanya, kenyataannya Maruli Hasiholan telah banyak berkontribusi terhadap perkembangan skena musik underground mulai era 90an hingga sekarang.

Eks personel Sendal Jepit ini mengalawi karirnya di band pop-punk pertama di Indonesia sebagai pemain gitar. Tidak hanya itu, Maruli Hasiholan pun membangun sebuah label rekaman lokal yang khusus menaungi band pop-punk, My Own Deck. Produser Musik pun jadi pekerjaan yang pernah dikecapnya. Album Sendal Jepit – Ini Bukan Album Metal (2004) dan Disconnected – self-titled (2011) menjadi beberapa karya wujud rancangan idenya.

Sendal Jepit berawal dari sekumpulan anak-anak SMP yang mencoba bermain musik di tahun 1992.  Dengan formasi pertama yaitu: Andri, Toran, Ramdhan, Randy dan Imam. Sayangnya, Imam hanya bertahan selama dua tahun yang kemudian digantikan oleh Maruli Hasiholan. Maruli masuk tahun 1994 untuk menggantikan posisi gitar yang ditinggalkan oleh Imam. Sendal Jepit memulai langkahnya dengan meng-cover lagu-lagu dari Ramones, The Cure dan Bad Religion.

Pertama kali manggung menggunakan nama Sendal Jepit saat tahun 1994, ketika pentas di bazaar SMA 2 Bandung dan membawakan lagu-lagu orang lain. Selepas itu, Sendal Jepit sering tampil di berbagai event di Bandung. Sampai akhirnya mendapatkan tawaran untuk manggung di panggung bersejarah di Bandung, GOR Saparua. Mereka mencoba peruntungan dengan membawakan hits dari Bad Religion. Ternyata, selepas panggung pertamanya di sini dengan meng-cover lagu tersebut, Sendal Jepit mendapatkan respon yang luar biasa dari penonton. Karena pada zamannya, pergerakan musik bawah tanah Saparua lebih banyak didominasi oleh grindcore, punk rock dan hardcore, sedangkan untuk musik pop-punk belum ada. Kemudian, di venue ini juga lagu yang pertama kali dibuat oleh Maruli, “Watch Around” sempat dibawakan saat event Hoollabaloo #2.

Sendal Jepit kemudian berkesempatan untuk merekam beberapa demo untuk diputar di radio. Hingga terciptalah 4 lagu yang direkam di 40.1.42 Studio, namun hanya lagu “Nina” yang masuk radio dengan alasan menggunakan lirik bahasa Indonesia.“Kalau zaman dulu itu, band indie yang bisa bikin album tuh merupakan prestasi. Tapi ada semacam syarat, minimal yang udah punya album udah manggung ratusan kali,” ujar Maruli. Setelah melalui proses 3 tahun bermain dari panggung ke panggung, akhirnya, album pertama, Sendal Jepit (1997) berhasil dirilis oleh Riotic records. Kaset ini terjual habis dan sampai saat ini rilisan legendaris ini masih diburu oleh beberapa kalangan kolektor. Karena selain mempunyai nilai historis, kaset ini juga termasuk langka. Di satu titik, Maruli merasa bosan dengan Sendal Jepit karena kunjung tidak mendapatkan chemistry, di tahun 1999 Maruli memutuskan untuk mundur. Selepas itu, Sendal Jepit kerap gonta-ganti posisi gitar, terhitung sudah 3 kali pergantian di posisi alat petik enam senar ini.

Meski dulu, sempat tergabung di The Bonots sebagai drummer, namun band ini tidak bertahan lama, bahkan tidak mempunyai album. “Sebenarnya chemistry-nya udah dapet. Kebanyakan proses pembuatan lagu pun sering dibuat saat jamming di studio, terbentuk bareng-bareng deh,” tambah Maruli.

Maruli kemudian meneruskan idealismenya dengan membentuk one-man show project-nya, The Marmars. Berawal dari komputer Windows 95, EDO RAM 16MB, Processor Pentium MMX 166 Mz dengan memakai software Cakewalk di tahun 1999, Maruli mulai merekam lagu-lagunya dengan peralatan yang seadanya. Tape Sony Compo pun disulap sebagai pengganti ampli dan menurut Maruli sendiri, hasilnya gitar terdengar seperti berefek distorsi. “Sebenernya proses bikin lagunya kebalik dengan musisi pada umumnya. Jadi, instrumen yang pertama direkam itu adalah gitar, kemudian drum dan lirik vokal nyusul belakangan,” terangnya. Mixing dan mastering pun dilakukan seadanya namun total di penggarapan di software Sony Vegas. Distribusi pun hanya dimasukkan via internet dan beberapa komunitas punk dunia. Sebuah kesempatan untuk manggung sempat datang ketika seseorang dari Jepang mendengarkan materi The Marmars dan menawarkannya untuk datang ke Jepang, cuma waktu itu Maruli kebingungan karena The Marmars hanya terdiri satu orang dan berangkat ke negeri Matahari itu pun gagal. Akhirnya, The Marmars berhasil manggung di pertengahan 2005 dengan dibantu teman-teman pop-punk lokal lainnya. Terhitung hanya sebanyak 6 kali The Marmats manggung, tetapi itu tidak menyurutkannya untuk terus berkarya. Bahkan maruli berjanji akan menelurkan kembali album The Marmars yang ketiga untuk melengkapi album triloginya.

Tidak jauh berbeda dengan Sendal Jepit dan The Marmars, My Own Deck records pun dimulai dari iseng-iseng merekam kaset, CD yang dibuatkan menjadi mixtape di tapedeck miliknya untuk dikonsumsi secara pribadi. Tercetus ide untuk membuatnya menjadi label rekaman itu berawal ketika ada event khusus musik pop-punk, ‘Forever Young, Forever Punk’ di Cafe Hitam Putih, Lembang tahun 2000-an. Maruli dan seorang temannya mempunyai pemikiran untuk membuatkan kompilasi yang sebagian besar pengisinya merupakan band yang terlibat langsung di acara tersebut. Ternyata, selepas itu My Own Deck mulai serius menggarap rilisan pertamanya yang bernama Still Punx, Still Sucks. Ada 15 band yang tergabung di kompilasi, bahkan Rocket Rockers pun mengawali karirnya di album ini. Ternyata ini mendapatkan perhatian yang cukup bagus. Seakan ingin mengulangi kesuksesannya Maruli kemudian membuatkan kompilasi keduanya bernama Bad Tunes And Some Ordinary Tunes dan dirilis versi CD.

“Eh, masa mentok di kompilasi aja sih, harus ada rilisan lagi dong biar kaya Epitath records, Drive-Thru records dan Fat Wreck records yang banyak rilisannya,” ujar Maruli.

Seketika Maruli ingat akan hasil rekaman The Marmars yang sudah direkam di tahun 1999, maka dari itu, rilis-lah versi kaset dari The Marmars – Don’t Hear This! (2003) yang menjadi rilisan ketiga My Own Deck. Dikurun waktu itu, ternyata My Own Deck mulai banyak dilirik oleh komunitas punk di Bandung, sehingga kebanyakan dari band-band mereka ingin dirilis pula oleh label rekaman milik Maruli ini. Tercatat ada nama-nama seperti, Aggressive Touch, Nudist Island, CloseHead, Disconnected, Buckskin Bugle, Sendal Jepit, The Marmars yang masuk naungan My Own Deck. Di waktu yang bersamaan Maruli mulai banyak belajar mengenai mixing dan mastering untuk menyaring beberapa band yang ingin bergabung dengan My Own Deck. Meski, banyak band yang terdapat di My Own Deck, namun hanya album Sendal Jepit – Ini Bukan Album Metal! (2004) yang pernah diproduseri oleh Maruli. Menghabiskan sekitar 4 shift untuk rekaman dan terhitung asal-asalan, beruntung tertolong ketika diolah dan dicampur lagi suaranya di komputer oleh Maruli. Tak disangka-sangka album ini laku keras, bahkan sempat menduduki posisi kedua sebagai best seller di toko musik Aquarius (Dago). Berkat pencapaiannya Sendal Jepit sempat dicari oleh salah satu perusahaan label major dan hampir saja sign dengan perusahaan rekaman tersebut. Namun, Sendal Jepit tetap memilih berada di jalur indie. Sama halnya dengan Maruli Hasiholan, meski memiliki segudang kreativitas, tapi Maruli tetap konsisten berada dijalurnya. [Dean Genial Iqbal]

post thumbnail

Hellgods, Pionir Black Metal Indonesia

HELLGODS adalah pionir band black metal di Indonesia yang lahir pada 16 September 1995.
Pada masa itu kesemua personilnya merupakan gabungan dari beberapa band lokal. Mereka mulai banyak meng-cover band-band luar negeri, seperti The Abyss, Rotting Christ, Necromantia, Impaled Nazarene & Cradle Of Filth yang mana pada waktu itu band-band tersebut menjadi influence bagi musik mereka. [...]

post thumbnail

Brian Eno: Saya lebih memilih musik eksperimental

Brian Peter George Eno atau yang lebih dikenal dengan nama Brian Eno adalah seorang musisi yang terlahir di Inggris, 14 Mei 1948 yang memiliki segudang bakat dan talenta. Sebut saja composer, producer, singer dan juga visual artist yang pernah ia lakoni. Tidak hanya itu, Eno juga dapat memainkan berbagai instrumen musik seperti synthesizer, piano, gitar, [...]

post thumbnail

The Legendary Super Blues-Rock Drummer, Ginger Baker

Seorang pemuda yang bekerja di perusahaan periklanan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dalam pengajuan dirinya tersebut ia berkata kepada atasannya, “Saya ingin berhenti. Saya ingin menjadi drummer saja”. Atasannya pun membalas, “Saya tidak tahu bahwa kamu bisa main drum.” Sang pemuda berkata, “Memang saya tidak bisa. Tapi saya akan bisa”. Beberapa tahun kemudian, sang [...]

post thumbnail

Stephen Marley

Mengawali karir bersama saudara-saudarnya Sharon, Cedella dan Ziggy, ia merekam lagu pertama, “Children Playing in the Streets” pada tahun 1979. Ditulis oleh sang ayah, single ini membahas kemiskinan yang mengerikan dan banyak dialami oleh anak-anak di Jamaika. Royalti lagu tersebut disumbangkan kepada Dana Anak PBB.
Stephen Robert Nesta “Raggamuffin” Marley lahir pada tanggal 20 April 1972, [...]

post thumbnail

Wanda Jackson, The Queen of Rockabilly

Some people like to rock, some people like to roll
But movin’ and a-groovin’s gonna satisfy my soul
Let’s have a party

Hoo, let’s have a party

Well, send `im to the store Let’s buy some more

Let’s have a party tonight

Wanda Lavonne Jackson lahir pada 20 Oktober 1937 di sebuah kota kecil pinggiran Oklahoma [...]

post thumbnail

Buddy Holly, the Single Most Influential Creative Force in Early Rock and Roll

Charles Hardin Holley atau yang lebih dikenal dengan nama Buddy Holly adalah salah satu musisi rock n’ roll terbesar sepanjang sejarah. Karya-karyanya masih banyak dikenang hingga saat ini dan menjadi inspirasi bagi banyak musisi di seluruh dunia.
Holly terlahir dari keluarga sederhana di Texas, Amerika Serikat 7 September 1936. Dia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. [...]

post thumbnail

Bruce Springsteen, The Boss Who Work for Us

Bruce Frederick Joseph Springsteen dikenal dunia dengan nama Bruce Springsteen lahir di Long Branch, New Jersey, 23 September 1949. Ia dikenal salah satunya karena lirik lagunya yang kebanyakan bercerita tentang masalah sehari-hari kelas pekerja di Amerika Serikat, tentang mereka yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Karena itu ia kemudian dikenal sebagai [...]

post thumbnail

Obscura “Germany Extreme Technical Death Metal”

Selain Necrophagist dan Defeated Sanity yang memiliki konsep technical death metal, Jerman ternyata memiliki satu band lagi yang berkonsep sama yaitu Obscura, dimana band tersebut didirikan di Munich Bavaria oleh Steffen Kummerer (guitar, vocal) pada tahun 2002.
Nama Obscura sendiri didapatkan saat Steffen menyimak salah satu album milik band death metal asal Kanada yaitu Gorguts yang [...]

post thumbnail

Eggstone, the Godfathers of Swedish Pop

Band asal Swedia ini dibentuk tahun 1986 dan beranggotakan tiga orang, yaitu Per Sunding (vokal, bass), Patrik Bartosch (gitar) dan Maurits Carlsson (drum). Trio yang dibesarkan di kota pesisir kecil bernama Lomma ini merilis debut single mereka di tahun 1990 yang berjudul Bubblebed.
Setahun kemudian mereka membentuk Tambourine Studios di [...]



  • News In Brief

    Erwin Gutawa sudah menyiapkan komposisi baru miliknya untuk dimainkan dalam pagelaran musikal tari bernuansa Betawi, Airah di Monumen Nasional (Monas), 28-30 Juni 2013

    Mantan vokalis The Mars Volta, Cedric Bixler-Zavala, telah mengumumkan band barunya yang diberi nama Zavalaz

    Tahun ini Franz Ferdindand akan merilis album baru /kelima yang berjudul ‘Right Thoughts, Right Words, Right Action’

    Di usia 25 tahun, KLa Project akan menggelar konser elektronik di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta pada 26 Juni 2013 dan konser KLAkustik II yang rencananya akan diselenggarakan akhir 2013

    White Shoes and The Couples Company akan merilis mini album berisikan lagu daerah pada 20 Mei, di antaranya berisi “Lembe Lembe” asal Maluku dan “Cangkurileung” asal Jawa Barat

    Queens of the Stone Age akan merilis album baru / ke-6 yg berjudul …Like Clockwork pada 3 Juni 2013

    Dr Valorie Salimpoor, salah seorang peneliti di Montreal Neurological Institute, mendapat kesimpulan dari penemuan terbaru timnya  bahwa mendengarkan musik / lagu baru bermanfaat dan merangsang otak untuk menjadi aktif

    Camera Obscura akan merilis album baru ‘Desire Lines’ pada bulan Juni mendatang

    Prince, Sting, Leonard Cohen dan Marcus Miller akan memeriahkan festival jazz tahunan Montreux di Swiss, Juli mendatang










  • Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

    Get Adobe Flash player



    Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

    Get Adobe Flash player



    Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

    Get Adobe Flash player