Isha Hening, Eksplor Perkembangan Seni New Media Art yang Representatif
Isha Hening adalah salah satu penggiat visual artist, visual jockey, motion graphics dan musisi electronic. Wanita yang bisa memainkan instrumen piano, gitar dan harmonika ini banyak membicarakan soal kesibukannya yang berkencimpungan dengan dunia musik, karir dan new media art. Mari simak obrolan kami berikut ini.

Hi Isha apa kabar nih?
Baik baik, Alhamdulillah. Paling pilek sama tangan suka pegel-pegel.
Lagi sibuk apa?
Sibuk ngurusin suami, hahaha.
Kegiatan kamu lagi ngapain aja sih sekarang?
3-4 tahun terakhir ini masih di sekitaran visual terus. Motion graphics, video mapping, VJ dan pameran. Lagi menikmati banget kerja bareng teman-teman di studio Fear FX, Vj-ing sana sini nonton konser gratisan sambil kerja dan ngemil di FOH.
Mengenai VJ, kamu belajar dari kapan sih, ada yang ngajarin ga?
Hmm, belajarnya bisa dibilang otodidak, tapi dulu sewaktu masih di Bandung, teman-teman di Openlabs (Common Room) yang pertama mengenalkan soal Vj-ing. Yang pertama banget ngasih tau soal software VJ itu teman saya Muhammad Akbar, visual artist juga.
Ada trik khusus ga sih kalau mau jadi seorang VJ? Apa aja yang mesti dipelajari?
Trik khusus sih ga ada, asal ada niat pasti ada jalan. Hahaha. Eh tapi serius lho, saya orang yang percaya akan kerja keras. Kalau saya pribadi selalu memberi saran untuk teman-teman yang baru mau belajar VJ-ing, ada baiknya belajar soal video, motion graphics, animasi dulu, banyak lihat referensi visual, untuk membentuk sense kita. Belajar soal teknis hardware juga sangat perlu, memang awalnya repot, tapi sedikit-sedikit kalau mau belajar akan berguna banget. Pace kerja di industri ini sangat cepat. Apalagi kalau sudah bicara soal event besar, semua serba cepat dan harus maksimal. Jangan sampai saat di venue kita masih bengong ngeliat alat.
Bagaimana dengan nasib Desklap? Atau sekarang kamu punya band baru lagi?
Lho, emang masih ada yang inget Desklap? Hahaha. Project musik elektronik sih jalan terus, cuma kali ini ga full instrumental seperti Desklap, setiap lagu ada vokalnya dan proses bikinnya juga dari main gitar/piano, kalau Desklap dulu kan prosesnya lebih ke coba-coba sound dari synth atau DAW software. Jadi belum tau akan tetap pakai nama Desklap apa ga. Belum tau juga akan dirilis apa ga, hahaha. Kadang main musik bareng suami juga. Santai sih kalau di musik.
Pendapat kamu mengenai pembedaan gender di lingkup pekerja musik dan seni? Misalnya ada nama panggilan untuk FDJ atau FVJ, itu bagaimana?
Pendapat jujur banget atau ga nih? kalau pendapat jujur banget, ngapain sih masih diomongin? Saya memang tidak tahu bagaimana keadaannya di tempat-tempat yang masih belum ada kesetaraan gender, tapi kalau di lingkup kerja dan pergaulan saya sendiri, rasanya sekarang udah baik-baik aja. Memang dulu sempat merasakan di underestimate oleh berbagai pihak karena saya perempuan yang bekerja dan berkarya di lapangan yang didominasi oleh laki-laki, tapi pada akhirnya karya dan hasil kerja kita sendiri yang akan berbicara. Udah ga penting lagi saya ini perempuan atau laki-laki. Penggunaan istilah FDJ atau FVJ cuma kerjaan marketing bodoh aja buat saya. Let’s face it, kita hidup di dunia yang perempuan sering dijadikan objek dan bahan jualan, dan sedihnya banyak perempuan yang rela dijadikan objek dan bahan jualan. Kuncinya sih, kalau emang suka sama bidangnya dan emang tujuannya pengen berkarya, harus ga usah mikirin yang kaya begituan. Dikasih tau aja kalau masih ada yang mempermasalahkan gender dan pake istilah FDJ, FVJ. Kalau masih ngotot juga ya biarin aja, mereka yang rugi kok.
Mengapa (hampir) setiap band electronic kalau mau manggung harus selalu diiringi visual?
Ah masa sih? Kenapa ya? Biar asik aja, sama supaya orang-orang kaya saya ada kerjaan, hahaha. Ya intinya manusia selalu punya kecenderungan untuk merepresentasikan musik/suara yang mereka dengar ke dalam berbagai hal dan yang paling kuat adalah visual. Bisa dibilang visual dalam penampilan musik elektronik membantu penonton untuk merepresentasikan musiknya. Selain banyak juga penonton yang memakai visual untuk mabuk dan getting high, hahaha.
Menurut kamu new media art itu apa sih?
Buat saya new media art sangat luas ya. Sebetulnya artwork apapun yang dibuat dengan cara yang bukan tradisional seperti lukis atau sculpture bisa saja dikategorikan sebagai new media art. Umumnya new media art menggunakan new media technology dalam pembuatannya. Seperti CG, interactive art atau yang saya lakukan, motion graphics. Dan kadang hal-hal yang awalnya tidak terpikir dapat digunakan sebagai art medium juga dapat dieksplorasi sebagai seni, seperti misalnya bioteknologi, kimia. Lukisan indah tidak hanya dibuat dengan cat dan kanvas lagi, tetapi bisa sejauh menggunakan DNA manusia.
Apa sih yang menarik dari new media art itu sendiri?
Saya rasa perkembangannya sendiri yang membuat new media art menjadi menarik. Para artis nampaknya semakin penasaran mencoba berbagai media. Misalnya, saya yang awalnya terjun di dunia motion graphics artist mulai tertarik akan live visual dan interactive art yang akhirnya mencoba menggabungkan media-media tersebut dan muncul lagi media baru. Apapun yang baru pasti menarik pada awalnya. Sama aja kaya punya pacar baru, pas baru jadian pasti penasaran kan, nanya ini itu, nanti lama-lama juga ketauan beneran seneng apa ga. Nah, kategori menarik atau tidaknya balik lagi ke diri masing-masing.
Band lokal yang menurut kamu bagus siapa? Mengapa kamu memilih itu?
Komunal, Vague, Bottlesmoker dan baru-baru ini suka Sigmun. Buat saya kategori band lokal bagus atau tidak yang pasti dari karya-lah. Menurut saya banyak banget band/musisi lokal yang kebanyakan gaya, kegedean buzz-nya, kegedean ego, tapi karyanya gitu-gitu aja. Misalnya nih ya, di press release album deskripsi musiknya kaya yang gimana banget, wah banget deh, pas didengerin yaaahh gitu aja. Atau yang di twitter banyak bener gimmick-nya, ini lah, itu lah, pas manggung, yaaa berantakan. Saya sih ga peduli mau bandnya bilang mereka pake Telecaster 17 senar atau Moog tahun sebelum masehi atau proses recording-nya di bawah laut atau manggung pake ampli udah bukan Orange lagi tapi mejikuhibiniu, kalo musiknya jelek, ya jelek aja. Band-band yang saya sebutin tadi kalau menurut saya termasuk band-band lokal yang ga keberatan gaya, tapi hasil karyanya ok, manggung live juga ok, selain musiknya saya suka juga tentunya, hehe. [Dean Genial Iqbal]








