Empat Musisi Mancanegara Berdarah Indonesia
Kiprah musisi mancanegara kerapkali menginspirasi musisi tanah air. Saking terinspirasinya, beberapa di antaranya bahkan terdengar mirip dengan band yang diidolakan. Tapi jangan salah, dari sekian banyak pemusik luar negeri, ternyata ada pula orang Indonesia, baik yang merupakan penduduk keturunan, maupun asli warga negara Indonesia. Tak jarang pula mereka banyak berkontribusi terhadap perkembangan musisi dalam negeri. Berikut adalah ulasan mengenai empat musisi mancanegara berdarah Indonesia.
Yang pertama adalah The Tielman Brothers, yang sekaligus merupakan sebuah grup musik tertua asal Indonesia. Mereka menghasilkan musik rock & roll, namun ada juga yang menyebutnya sebagai indorock. Mengombinasikan musik Indonesia dan Barat dengan akar Keroncong. The Tielman Brothers merupakan band Belanda-Indonesia pertama yang berhasil masuk kancah internasional pada 1950-an. Selain itu, mereka juga adalah salah satu perintis rock & roll di Belanda. Band ini cukup terkenal di Eropa, jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones. Atas dasar inilah The Tielman Brothers dinobatkan sebagai band rock tertua di dunia.
Andy Tielman dan seluruh keluarga berasal dari Timor. Waktu masih kecil nama band mereka The Timor Tielman Brothers. Perjalanan musik The Tielman Brothers dimulai di Surabaya pada tahun 1945, dimana empat kakak beradik laki-laki dan seorang adik perempuannya, Jane, sering tampil membawakan lagu-lagu dan tarian daerah. Kemampuan musik mereka diturunkan dari sang ayah, Herman Tielman, seorang kapten tentara KNIL, yang sering bermain musik bersama teman-temannya dirumahnya di Surabaya. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur, yang bahkan seringkali dihiasi dengan lompat-lompatan, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah mempopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.
Kemudian ada penyanyi, penulis lagu dan gitaris berdarah Ambon, Daniel Sahuleka, yang lahir di Semarang, 6 Desember 1950. Ia tinggal di Winterswijk, Belanda. Beberapa lagunya yang terkenal di Indonesia antara lain adalah “You Make My World So Colorful” yang muncul pada awal 1980-an dalam album Daniel Sahuleka (1977), serta “Don’t Sleep Away This Night” yang merupakan single album dengan judul yang sama pada tahun 1978. Di awal karirnya sebagai penyanyi rekaman tersebut, Daniel bernaung di bawah Polydor (Netherland). Pada 2004 ia menerbitkan sebuah album baru yang antara lain berisi ‘Berdendang’, yang kuat diwarnai oleh nada dari tanah leluhurnya, Maluku.
Di tahun 1995, Daniel sempat kembali ke Indonesia dan mendapat penghargaan di Yogyakarta. Pengalaman Daniel ini direfleksikan dalam albumnya “After The Jetlag” yang dirilis oleh Sunflight pada Oktober 1998. Lewat labelnya sendiri, Daniel juga memberi izin untuk merilis lagu-lagu terbaiknya khusus untuk pemasaran di wilayah Indonesia dalam album The Best Of Daniel Sahuleka yang merupakan produksi bersama Moedya Music & Alfa Records. Di album ini, selain dua hits yang disebutkan di atas, yang menggunakan versi dari album I Adore You (1993), juga ada nomor balada “Will You Still Be There”, “Lonesome On The Road”, “The Sunflight” serta tembang yang memuat pesan kemanusiaan berjudul “Dust Of Life.”
Tak cuma tembang balada yang menjadi andalan Daniel di album ini. Ia pun menunjukkan sisi dinamis lewat “Imagine”, “The Rain” serta lagu bernuansa etnik tradisional Ambon, “Badendang”, yang memperlihatkan kualitas Daniel sebagai musisi yang kreatif, inovatif dan berkelas internasional. Menurut Daniel, ia sangat senang akhirnya bisa kembali menemui penggemarnya di Indonesia, kendati cuma lewat sebuah album rekaman. Sebab baginya masyarakat Indonesia tetap selalu punya tempat khusus di hatinya.
Jamie Aditya lahir di Canberra pada 22 April 1978 dari pasangan Stuart Graham dan Ati Ashyawati. Ibunya adalah putri dari Acdiat K. Mihardja, seorang penulis dan sastrawan terkenal asal Jawa Barat. Jika dibandingkan dengan musisi, namanya lebih dikenal sebagai bintang iklan dan presenter. Di masa kejayaan MTV di tahun 1990an, ia terpilih menjadi VJ MTV Indonesia dan VJ MTV Asia berpasangan dengan Sarah Sechan.
Bibit-bibitnya sebagai pemusik sudah diasahnya semenjak kecil. Saat itu Jamie sudah pandai bermain alat musik. Beberapa alat musik yang ia kuasai antara lain gitar, bass, perkusi, dan alat-alat musik tradisional seperti kecapi, seruling, dan gendang Sunda. Karir musik Jamie dimulai sejak tahun 90an dengan ikut mengisi vokal pada album perdana Humania di tahun 1993. Ia juga muncul dalam album MYSTICAL MIST milik Krakatau(1994). Setelah itu, namanya mulai dikenal sebagai VJ MTV melalui program MTV Asia dan MTV Indonesia.
Pada 2007, ia menjadi juri acara pencarian bakat Indonesian Idol season keempat, selain itu ia juga tengah menyiapkan album solo bernuansa soul yang sedang digarapnya. Setahun sebelumnya, ia muncul bersama Glenn Fredly dalam album Aku Dan Wanita milik Glenn dengan lagu “Good Times”. Tahun 2007, Jamie ikut menjadi vokalis tamu di album Rock N Roll Mafia, Outbox dan bernyanyi di lagu “Questions”. Ia juga pernah menjadi backing vocal dari band garage rock asal Bandung, The S.I.G.I.T.
Di tahun 2012, akhirnya Jamie merilis album solo yang sempat tertunda lama. Album yang berjudul LMNOP (Love Me Now Or Perish) ini berisi 9 lagu yang bertemakan soul dan funk. Unsur IDM pun menjadi bahan eksperimen yang mencolok ketika berpadu bersama lajunya vokal ala black music. Jamie yang seorang multi-intrumentalis tidak hanya memainkan beberapa alat musik dalam lagunya namun juga memporduseri sendiri album LMNOP ini. Album perdananya ini juga dibantu sederetan musisi Indonesia ternama, salah satunya adalah musisi jazz kawakan, Indra Lesmana.
Jika Tielman Brothers, Daniel Sahuleka dan Jamie Aditya adalah warga keturunan warga asing, Dougy Mandagi (vokalis, gitaris The Temper Trap) justru merupakan warga asli Indonesia. Lahir dari keluarga yang memiliki tradisi seni dan musik yang kuat, di antaranya pengaruh dari tradisi gereja. Sang ayah yang penggemar musik country juga ikut memberi pengaruh yang membentuk pola bermusiknya. Sebelum tiba di Australia, Dougy telah mengunjungi berbagai provinsi di Indonesia. Ia pun sempat tinggal di Hawaii. Ia memulai kariernya di Melbourne sebagai pelukis potret dan mengamen hingga akhirnya ia bekerja di sebuah toko.
Bekerja di toko bukan tujuan utama Dougy. Keinginannya sejak lama ialah membentuk sebuah band. Ia percaya bahwa Melbourne adalah kota bagi orang-orang yang memiliki impian. Memang, cita-cita itu harus ia pendam sekian lama sampai akhirnya ia bersua Toby, seorang drummer yang memiliki wawasan luas tentang musik. Mereka mulai berlatih. Jonny, kawan lama Dougy, kemudian bergabung sebagai pemain bass. Selama setahun mereka bertiga berlatih sambil mengisi sejumlah pertunjukan. Seorang teman lama Toby, Lorenzo, akhirnya ikut bergabung mengisi posisi pemain gitar. Maka terbentuklah The Temper Trap.
Di bawah pimpinan Dougy, The Temper Trap melakukan tur keliling Australia. Kehadiran mereka memesona telinga setiap orang, termasuk produser Jim Abbis yang sengaja datang ke Melbourne untuk membantu The Temper Trap membuat debut rekaman. Dengan serangkaian lagu baru, band ini telah mendapatkan penggemar tersendiri. Salah satu penampilan memukau The Temper Trap adalah pada saat babak final AFL 2012 di Melbourne. Disaksikan puluhan ribu pasang mata, Dougy dan kawan-kawan tampil sangat memuaskan. Dougy telah menyatu menjadi bagian dari masyarakat dan budaya Australia. Ia adalah duta seni terbaik dari Indonesia untuk publik Australia. [Dean Genial Iqbal]
*dari berbagai sumber








