Pure Saturday in The Grey Concert
Selasa malam (15/5) para “Pure People” sudah memadati Gedung Kesenian Jakarta, mereka menanti sebuah suguhan musik berkualitas, dari pionir band indie-pop Indonesia yang pada malam itu melakukan launching album berjudul Grey. Bisa dibilang Pure Saturday adalah contoh sukses musisi indie, yang bertahan dari tahun 90an dengan konsep awal sampai sekarang, tak tergerus zaman ataupun perubahan dinamika musik di Indonesia, mereka memang calon legenda.
Dengan dipromotori oleh G Production, yang dikenal juga sebagai penggagas Djakarta Artmoshpere, konsep konser ini patut diacungi jempol, diawali dengan visualisasi bola mata mirip dengan filosofi The All Seeing Eye yang disorot secara jelas hampir 2 menit dan diiringi lagu instrumen klasik ‘Centennial Waltzes’ dari komposer Johan Strauss. Kemudian Aditya Ardinugraha (gitar), Yudistira Ardinugraha (drum), Ade Purnama (bass), Arief Hamdani (gitar) mulai memperlihatkan dirinya satu persatu, lalu bersamaan dengan intro, Satrio NB (vokal) muncul dengan berpakaian hitam dan dipadu dengan legging hitam serta muka yang sengaja diberi efek bedak putih macam lakon pantomim.
Dengan membawa sebuah pedang serta visualisasi kuda dalam bentuk animasi, nomor ‘Horsemen’ pun menjadi pembuka Grey Concert tersebut, liriknya begitu sederhana namun dipadu dengan musikalisasi jempolan, bukan tanpa alasan dibalik produksi lagu ini ada sentuhan sang legenda Yockie Suryo Prayogo. “Hey, C’mon! Show your brave man side,” begitulah salah satu bunyi liriknya.
Pertunjukan teatrikal pun semakin kuat di lagu-lagu selanjutnya, Iyo, sapaan akrab Satrio, sesekali membacakan puisi. ”Aku berbicara mengenang masa. Aku berbicara tak mengerti kata. Aku berbicara membimbing hati. Aku berbicara menghargai kami. Aku berbicara mengisi ruang…” teriak Iyo, begitu bermakna. Perlu diketahui, ternyata konsep teatrikal ini adalah ide eksklusif Iyo sendiri, ia diberi kebebasan untuk membuat konsepnya sendiri. Ia mampu mencoba melepaskan stereotip Pure Saturday era Muhammad Suar Nasution, vokalis Pure Saturday terdahulu.
Setelah agak progresif di nomor pembuka, selanjutnya di nomor ‘Lighthouse’, kesan musikal Pure Saturday era 90-an sedikit terasa, mereka tidak lupa dengan memori-memori lampau itu. Akustik pun diwakili dalam lagu ‘Utopian Dream’, kali ini Adit menjadi pembukanya dengan penampilan solo gitar, kejutan terjadi saat Rekti Yoewono dari The S.I.G.I.T ikut berkolaborasi, sayangnya gangguan mikrofon Rekti membuat lagu ini tak terdengar maksimal, padahal jika ditelisik arti liriknya, akan bisa ditemukan sebuah makna yang begitu dalam. “We’re living the utopians dream, sauvez moi la vie.”
Satu-satunya lagu berbahasa Indonesia di album Grey, ‘Musim Berakhir’ dibawakan lagi-lagi dengan tampilan visualisasi yang begitu apik, visual pohon-pohon mewakili pesan dari lagu ini. Di nomor ‘Starlight’, Iyo didampingi oleh seorang balerina sedangkan pada lagu ‘To The Edge’, ia juga ditemani oleh dua penari pria yang membuat dua lagu ini semakin hidup suasananya.
‘Instrumental The Air’, ‘The Empty Sky’ lalu dilanjutkan dengan nomor ‘Passepartout’ menjadi suguhan selanjutnya. Di nomor ‘Albatross’ yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu ‘Candle Lit & Moonshine’, ‘Embrace’ dan ‘Dream a New Dream’ menjadi nomor terakhir di album Grey yang mereka bawakan. Secara keseluruhan, dalam lagu ini bisa ditemui influens seperti The Cure, Marillion, Genesis atau Yes. Sebuah perubahan musikal namun tak menghilangkan ciri khas, ledakan-ledakan ala Pure Saturday masih bisa ditemui. Iyo sangat berandil besar dalam menciptakan efek-efek hebat dalam album ini, terlepas dari andil anggota lain juga tentunya.
Sesi kesatu pun sudah selesai dihelat. Namun malam itu sekitar 400 “Pure People” benar-benar dimanjakan, kali ini sesi kedua mereka diajak bernostalgia membuka masa-masa indah saat lagu-lagu seperti ‘Elora’, ‘Spoken’, ‘Coklat’ dan ‘Pagi’. Koor pun membahana di gedung tua nan mewah tersebut.
Rekti kembali muncul dan berkolaborasi di nomor ‘Enough’, ‘Simple’ dan ‘Desire’. Belum cukup dengan Rekti, kali ini giliran Yockie Suryo Prayogo, terlihat Pure Saturday sangat menghormati sang musisi senior yang pernah tergabung dalam God Bless dan Kantata Takwa ini. Di nomor ‘Citra Hitam’ bersama Yockie, terlihat sekali kedewasaan Pure Saturday dalam bermusik, penonton pun tanpa instruksi langsung menghadiahi standing ovation kepada mereka.
Di nomor ‘Labirin’, penonton diberi suguhan yang membuat siapapun malam itu disana akan dibuat tercengang, paduan suara yang mengisi suara pada lagu ini adalah komposisi pas, tak heran jika sing along oleh penonton menjadi salah satu alasan keberhasilan Pure Saturday membawakan lagu ini.
Lagu yang membuat Pure Saturday dikenal luas, ‘Kosong’, akhirnya dibawakan. Penonton mulai berteriak nama Suar, namun tak ada Suar, Cholil pun jadi, vokalis Efek Rumah Kaca tersebut memang begitu cocok membawakan Kosong berkolaborasi dengan Iyo. Nomor ‘Buka’ dari album ketiga pun menjadi penutup konser sederhana tersebut, dengan harga tiket yang lumayan terjangkau dan mendapatkan banyak bonus malam itu, sesungguhnya sangat rugi “Pure People” yang tak kedapatan tiket karena keterbatasan kuota penonton. Namun Pure Saturday memiliki rencana Bulan Juni ini melakukan tur untuk mengenalkan album mereka diantaranya ke Makassar, Semarang, Jogja dan Bandung untuk mengobati kekecewaan fans mereka. Sukses untuk Pure Saturday! [Rizki Wardhana]
Filed Under: Reviews Event








