Kampoeng Jazz 2010
[Uncluster/Review]—Tak kurang dari empat event musik dilaksanakan di Bandung pada hari yang bersamaan. Tak hanya karena akhir pekan, tapi event-event yang diadakan serempak ini juga tak ayal membuat Kota Bandung semakin macet tak hanya di satu titik, tapi di beberapa titik sekaligus. Belum lagi hujan yang kembali mengguyur kota ini setelah sekian lama diterpa hawa panas yang menyengat membuat kondisi jalanan semakin tak berkompromi bagi para penggunanya.
Jangan salah, karena hal tersebut tidak sama sekali menyurutkan niat penikmat musik di Kota Bandung untuk mendatangi event yang telah mereka pilih. Ya, tentu masing-masing event punya daya tarik sendiri bagi tiap orang. Hal yang paling dilihat tentu saja line up nya selain harga tiket yang disesuaikan dengan kantong mereka. Untuk ukuran mahasiswa, harga tiket 80.000-100.000 rupiah bisa saja terbilang mahal, tapi tak begitu jika dengan nominal sekian mereka bisa menyaksikan langsung musisi-musisi macam Gugun and Blues Shelter, Gilang Ramadhan Trio ft. Tohpati, Tompi, Glenn Fredly, hingga musisi asal Filipina, MYMP. Meski terbuka untuk umum, tapi Kampus Universitas Padjadjaran yang berada di Jl.Dipati Ukur No.35 dibanjiri oleh penonton yang kebanyakan mahasisa dan pelajar.
Adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unpad yang mengadakan gelaran bertajuk Kampoeng Jazz 2010: proud of indonesian jazz. for nation. for nature. for culture ini. Di edisi ketiga ini mereka memutuskan untuk mendirikan stage outdoor agaknya dengan harapan pengunjung yang hadir akan lebih banyak dari yang sebelumnya. Dan harapan ini terjawab begitu break maghrib berakhir, perlahan venue mulai disesaki oleh penonton. Disco Ethnic Percussion membuka sesi pascabreak sekitar pukul 18.15 WIB. Mengantarkan musik instrumental perpaduan etnik/perkusi yang nge-beat dan danceable ala musik disco membuat penonton sejenak tak lagi mempedulikan hujan yang masih setia mengguyur. G/E/T yang menggantikan posisi DEP lagi membawa komposisi instrumental ke hadapan penonton. Sejumlah nomor yang mereka bawakan salah satunya ‘Sekapur Sirih’ yang mereka dedikasikan untuk band Sekapur Sirih yang sorenya sempat perform di panggung yang sama.
Tompi disambut teriakan khas para gadis yang memang tak bisa menolak pesona lagu-lagunya dan tentu suara khas penyanyi bernama asli Teuku Adi Fitrian itu. Tapi tampaknya tak hanya para gadis, karena pemuda yang datang malam itu pun dengan fasih ikut ber-sing along saat dokter bedah plastik ini membawakan lagu-lagu koleksi lama maupun yang baru dirilisnya. Membuka penampilan dengan ‘Lulu dan Siti’, Tompi and friends baru naik panggung sekitar pukul 21.00 WIB di saat hujan perlahan reda. Nomor hits easy listening-nya pun mengalun hangat membuat suasana semakin bersahabat bagi mereka yang membawa pasangan. Single ‘Tak Pernah Setengah Hati’ dan ‘Menghujam Jantungku’ yang diambil dari album ketiganya, My Happy Life juga menjadi sajian Tompi malam itu. Tembang lawas, L.O.V.E membuat semua orang tak bisa menahan diri untuk tak bernyanyi, sebuah nomor yang semakin menghangatkan suasana selain karena jam session yang dilakukan Tompi bersama band pendukungnya. Menutup penampilan, Tompi memperkenal teman-teman yang diboyongnya malam itu lewat sebuah komposisi ‘unik’ dadakan yang ia buat.
Gilang Ramadhan Trio ft.Tohpati tampil di saat seluruh penonton menduga penampil berikutnya
adalah Glenn. Tapi penampilan mereka juga tentu tak kalah menarik. Bisa dibayangkan apa jadinya gitaris dan drummer handal di negeri ini bertemu di atas stage. Melahirkan sebuah komposisi yang mungkin tak semua orang akan mengerti, tapi di sisi lain akan mengundang decak kagum dan tepuk tangan tak henti dari mereka yang paham akan ramuan musik yang dihasilkan oleh para player skillful ini. Sayangnya kendala teknis sempat membuat penampilan mereka tertunda selama beberapa menit dan tentu saja mempengaruhi jadwal penampil berikutnya. Glenn Fredly yang dijadwalkan tampil pukul 23.00 WIB muncul setengah jam lebih lama. Penyanyi ini, masih dan (tampaknya) akan selalu datang dengan pesan cinta kepada semua penontonnya. Membuka penampilan dengan mengucapkan salam ala umat muslim, ia kemudian menegaskan status di jejaringan sosialnya yang mengatakan Music is My Religion. ‘Kita boleh berbeda, tapi bagi gua musik mempersatukan semuanya, tak peduli siapapun dia,’ tegas Glenn yang malam itu membawakan nomor pembuka ‘Cintaku’ dari alm.Chrisye yang sekaligus menjadi sebuah penghormatan bagi musisi legendaris tanah air itu. Malam itu Glenn benar-benar memanjakan penontonnya dengan memenuhi setlist yang diminta oleh para fans lewat akun twitter-nya sebelum ia tampil. Nomor demi nomor yang membuat namanya melambung bergulir satu per satu selama lebih kurang satu jam. Mulai dari nomor lama seperti ‘Cukup Sudah’ hingga nomor-nomor dari album Selamat Pagi, Dunia! seperti ‘Akhir Cerita Cinta’, ‘Sekali Ini Saja’, ‘Terpesona’ lalu juga dari album OST.Cinta Silver seperti ‘You Are My Everything’, ‘Kisah Romantis’, hingga nomor hits ‘Terserah’ dan nomor baru seperti ‘Nyali Terakhir’ dan ‘Linda’ yang berkisah tentang pertemuan kedua orang tuanya. Bahkan ia sempat mengundang Tompi ke atas panggung untuk membawakan nomor ’Good Times’ yang sebelumnya ia bawakan dengan Jamie Aditya.
Selain itu Glenn juga mengajak penonton berdonasi melalui box of hope yang diedarkan di antara penonton selama penampilannya. Dimana donasi yang terkumpul sepenuhnya akan ia sumbangkan pada masyarakat di salah satu desa di NTT yang hingga kini masih belum hidup layak dengan listrik memadai dan air bersih. Di sana rencananya Glenn akan mendirikan sarana pendidikan. Malam itu tak hanya menguras energi penonton dengan mengajak semuanya bergoyang dengan musiknya yang nge-beat atau ber-sing along saat lagu romantis dan mellow dibawakan, Glenn juga mengajak penonton untuk berbagi cinta pada sesama!
Kendala teknis kembali terjadi, dan kali ini menimpa penampil yang menjadi headline malam itu, MYMP. Band asal Filipina ini harus menghabiskan jatah manggung mereka selama beberapa menit untuk mengurusi kendala teknis. Sebagian penonton yang tadinya menyesaki venue hingga sejumlah orang harus digotong karena pingsan, kini sudah mulai meninggalkan tempat mereka. Bisa jadi karena mereka memang hanya ingin menyaksikan performa Glenn Fredly, atau karena kelelahan karena sebagian besar energi sudah terkuras di penampilan sebelumnya, dan bukannya tak mungkin juga karena jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul 01.00 WIB. Apapun alasannya, yang jelas masih ada penonton yang dengan setia menunggu kehadiran band akustik yang merilis debut album platinum pada 2003 bertajuk Soulful Acoustic ini. Selang beberapa menit akhirnya Juliet Bahala muncul ke atas panggung dan langsung menyapa penonton dengan membawakan nomor milik Sting and The Police “Every Little Thing (He Does Is Magic)”. Usai membawakan nomor pembuka ini, personil MYMP tampak tak puas dengan sound yang terdengar dan sang gitaris, Chin Alcantara terlihat protes kepada panitia. Setelah terjadi sedikit ketegangan akhirnya mereka melanjutkan penampilan dengan ‘A Little Bit’ dan sejumlah cover version seperti ‘Especially for You’, ‘For All of My Life’, dan ‘Waiting in Vain’ milik reggae legend, Bob Marley. Melihat penonton yang begitu apresiatif terhadap penampilan mereka -terlepas dari kendala yang sempat menurunkan mood- personil MYMP mulai tersenyum dan terlihat lebih bersemangat. Teriakan khas remaja kembali terdengar saat mereka membawakan lagu terbaru milik Taylor Swift yang disusul dengan hits andalan mereka, ‘Tell Me Where It Hurts’ yang kembali diiringi suara riuh penonton dan tentunya, sing along! Lagu cinta versi akustik yang dihantarkan dengan manis dan syahdu oleh suara Juliet memang terdengar nikmat meski malam kian dingin. Dan MYMP menutup gelaran Kampoeng Jazz 2010 dengan manis! [martha]
Filed Under: Reviews Event






