Jonah Lehrer Akui Palsukan Kutipan Bob Dylan Dalam Bukunya

Salah seorang penulis Majalah The New Yorker akhirnya mengakui bahwa ia telah menyalahgunakan kutipan Bob Dylan dalam bukunya, “Imagine: How Creativity Works”, yang bercerita bagaimana pendekatan Dylan dalam hal kreativitas.
Jonah Lehrer, akhirnya merilis statement melalui penerbitnya, Houghton Mifflin Harcourt, yang mengatakan beberapa kutipan Dylan yang muncul dalam bukunya tidak seluruhnya benar. Lehrer mengatakan ia mengakui kebohongannya setelah dikontak oleh Michael Moynihan dari Tablet Magazine yang merilis cerita mendalam tentang kalimat Dylan dalam “Imagine” yang jadi bahan pertanyaan.
“Saya bilang pada Moynihan bahwa mereka (kutipan yang dipertanyakan) berasal dari arsip interview yang disediakan untuk saya oleh perwakilan Dylan. Ini adalah kebohongan saat sedang panik,” ungkapnya. “Ketika Moynihan menindaklanjuti ini, saya terus berbohong dan mengatakan hal–hal yang seharusnya tidak saya katakan,” tulis Lehrer.
“Kebohongan itu telah berakhir sekarang. Saya paham posisi saya yang berat. Saya ingin minta maaf pada semua yang telah saya kecewakan, khususnya editor dan pembaca. Saya juga berhutang maaf pada Moynihan. Saya akan lakukan yang terbaik untuk memperbaiki ini dan memastikan kesalahan dalam pengutipan ini akan diluruskan. Saya juga telah mundur dari posisi saya sebagai penulis di The New Yorker.”
Penerbit Houghton Mifflin mengatakan dalam statement resminya bahwa Lehrer bersalah dalam hal penyalahgunaan yang serius. Listing untuk edisi e-book “Imagine” akan dihapus dan pengiriman buku dalam bentuk fisik telah dihentikan. Buku ini mulai diterbitkan Bulan Maret dan meraih angka penjualan yang baik serta menempati posisi 105 di Amazon.com, dan sudah 17 minggu berada dalam daftar terlaris Los Angeles Times dengan angka 200.000 kopi.
Sebelumnya, penulis berusia 31 tahun ini dikenal lewat eksplorasi ilmu pengetahuan, literatur dan bagaimana pikiran bekerja. Ia populer setelah pada tahun 2007 merilis buku laris, “Proust Was a Neuroscientist”, yang membuat ide-ide ilmiah kompleks jadi bisa diakses (mudah dipahami). Dan ia kemudian merilis buku ilmiah populer lainnya, “How We Decide” dan yang terbaru adalah “Imagine”. Sebelum di The New Yorker, ia mengisi kolom yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan budaya di Wired. Ia pernah bermasalah dengan The New Yorker setelah mengakui bahwa ia mendaur ulang kalimat yang sebelumnya pernah ia tulis, untuk tulisan di majalah ini. Dan beberapa kalimat daur ulang juga muncul dalam “Imagine”.
Dia antara kesalahan kutipan dalam buku Lehrer yang ditemukan adalah yang pernah muncul dalam dokumenter terkenal dari pertengahan 60-an, “Don’t Look Back” dimana Dylan menjelaskan pada seorang reporter tentang lagunya. “Saya baru saja menulisnya. Tidak ada pesan yang hebat.” Dan dalam buku “Imagine” Lehrer mengambil kalimat itu dengan menambahkan kalimat lainnya, “Berhenti meminta saya menjelaskan”.
Lehrer juga ditemukan mengutip cerita bagaimana Dylan menulis “Like a Rolling Stone” dan ketika dikonfrontasi tentang itu, sempat ada dugaan ia diberi akses pada versi penuh (tanpa editan) dari “No Direction Home”, sebuah dokumenter Dylan yang dibuat Martin Scorsese. Dan kini Lehrer mengaku ia tidak pernah melihat dokumenter itu.
Menurut Moynihan, saat pertama kali menghubungi Lehrer, penulis itu mengaku diberi akses oleh manajer Dylan, Jeff Rosen untuk melihat interview (yang tak pernah dipublikasikan) untuk dokumenter No Direction Home. Selama tiga minggu Lehrer membuat kebohongan dan akhirnya ia mengakui pada Moynihan bahwa ia tidak pernah bertemu atau berhubungan dengan Rosen, manajer Dylan, dan tidak juga pernah melihat interview Dylan dalam versi asli (tanpa editan) No Direction Home.
“Tiga minggu sejak komunikasi pertama, saya meminta Lehrer untuk menjelaskan tindakannya, dan ia menjawab, untuk pertama kalinya dalam komunikasi kita, terus terang, saya tidak bisa menemukan sumber aslinya. Saya panik. Dan sangat menyesal telah berbohong.”
Editor The New Yorker, David Remnick ikut berkomentar, “Ini benar-benar situasi yang menyedihkan,” ujarnya. “Tapi pada akhirnya yang paling penting adalah integritas atas apa yang kami terbitkan dan yang kami wakili.”
Sementara itu, juru bicara Dylan belum memberikan respon apapun.
Filed Under: News








