Strangers
Ketika kembali menjadi peserta Global Battle of the Band (GBOB) World Challenge 2010 yang kedua kalinya, Strangers berhasil menjadi wakil Indonesia untuk menunjukkan performa dan karya mereka di Kuala Lumpur, bersama wakil lainya dari sekitar 26 negara dalam ajang Global Battle of the Band (GBOB) World Challenge 2010.
Sebelumnya di tahun 2008, band yang digawangi oleh Ican (Vocal), Gugun (Guitar), Lanlan (Bass) and Nayaka (Drums) sempat menjadi finalis GBOB, sebuah kompetisi internasional yang salah satu penggagasnya adalah Glen Matlock (Sex Pistols) dan Steve Lillywhite (Producer – U2, Iggy Pop, The Rolling Stones).
Terbentuk pada 2007, Strangers muncul dengan materi alternative/ brit-rock dengan atmosfer dari band band pop Inggris seperti The Cure, Radiohed (era pop), Coldplay sampai The Beatles dengan kemasan sound yang terdengar retro khas Strangers, mereka menyebut musiknya: honest, simple, raw, and powerful.
Strangers merilis sendiri album pertama, “Everythin Goes Automatic” pada tahun 2008 dimana salah satu singel-nya, ”Heavenly” yang berhasil menduduki posisi #1 di tangga lagu Phoenix Radio, streaming di Inggris.
Berikut wawancara kami.
Pengalaman positif seperti apa yang kalian dapat dari sebuah kompetisi?
Lanlan : Kompetisi itu merupakan indikasi kedewasaan kami. Kalau waktu masih SMA dulu, ada banyak unsur x dan y seperti geumpeur* (bahasa Indonesianya apa nih?) dan perasaan ingin dipuji. Kalo pada GBOB ini, yang pertama itu mengukur indikasi mental kami sampai dimana. Soalnya itu kan event gede skala internasional. Kedua adalah pertemanan, jadi nambah temen juga.
Naya : Intinya sih kita jadi lebih pede sama musik kita sendiri. Lebih pede dalam mengembangkan musik kita ke depannya dan lebih pede menampilkan musik ke publik. Di sisi lain, kita jadi punya network baru dari berbagai negara setelah tampil di GBOB.
Hal terberat yang harus dilewati selama kompetisi?
Kalo dari kita sih kesehatan. Pengalaman dari GBOB yang lalu, waktu mendarat di Malaysia, Ican demam dan Lanlan kena flu. Gara-gara itu kami jadi grogi dan tegang. Sampai hari H pun Ican masih demam. Alhamdulillah, waktu perform ngga ada masalah.
Ada kritik untuk festival band sekelas GBOB?
Naya : Panitia kurang nge-blow up media untuk di Nasional dan Internasional. Promonya juga kurang besar dan meriah, padahal GBOB sebenarnya event yang cukup bergengsi.
Lanlan : Konsistensi peraturan yang yang dibikin oleh GBOB. Mereka punya aturan delapan menit all in, plug and play, tapi kenyataanya pas kita main di Kuala Lumpur kemarin ngga kaya’ gitu. Banyak peserta yang mainnya lebih dari delapan menit tapi ngga di fade out. Jadi ngga delapan menit all in, tapi delapan menit setelah personil siap di panggung. Tenyata gitu, entah apa peraturannya berubah lagi atau tidak, kalaupun berubah ngga ada sosialisasi.
Ican : Rangkaian acaranya kurang padat, ngga ada acara kumpul sama band-band dari negara lain kaya’ nge-jam bareng atau apa gitu. Jadi kita dateng, konferensi pers, technical meeting, sound check, manggung, udah gitu doang. Jadi selama tiga hari, kami (peserta) banyak mengisi waktu masing-masing saja.
Lanlan : Soalnya itu ada 17 negara jadi peluang besar untuk diplomatic activity, sayang ngga diakomodir. Jadi kebanyakan pada sibuk masing-masing.
Ada band Inggris yang memainkan materi yang sama?
Ada band dari Inggris, bukan Britpop tapi malah electropop, dan keseluruhan Hampir 80% rock. Heavymetal dan eksperimental juga ada. Band yang mirip (musik) dengan kami tidak ada..
Pengalaman buruk selama mengikuti GBOB di Malaysia?
Tentu saja ada. Pengalaman buruknya kami ngga juara, hahaha…
Pendapat kalian mengenai band-band yang tampil di GBOB dibandingkan dengan band-band lokal?
Banyaknya yang bagus, secara musikalitas dan skill sih ngga beda jauh sama band-band kita (Indonesia). Perbedaan paling mencolok adalah energi yang dikeluarin waktu perform. Ketika di panggung tuh terlihat totalitas maennya.
Seperti apa apresiasi mereka (orang luar Indonesia) terhadap Strangers?
Alhamdulillah, bikin kita ge er. Kami naik panggung bukan ingin dipuji, tapi ketika turun dari panggung banyak dipuji. Surprise lah. Semua yang kita dapet positif, malah ada beberapa yang bikin kita ge er. Ada beberapa panita yang sangat mendukung, tapi sayangnya mereka bukan juri, hehehe.. Bahkan dari orang-orang Malaysia sendiri, kan suka ada sentimen dan memandang kita (Indonesia) rendah, tapi setelah kita perform mereka yang paling antusias. Nah, bisa dilihat dari situ lah, dari yang negatif menjadi positif.
Adakah band atau musisi lokal yang ingin kalian ajak kolaborasi baik di panggung maupun rekaman?
Sekarang mau kolaborasi sama Azi “Angsa dan Serigala”. Kalau masalah kolaborasi kita ngga muluk-muluk. Kalau emang ada kesempatan dan ada chemistry, ya udah kita coba jalanin aja.
Apa makna Strangers buat kalian?
Pada saat itu (awal Strangers terbentuk) kami merasa jadi orang-orang asing di dunia musik tanah air. Setiap nemu respon, musik kami dianggap aneh. Misalnya, ke major, kita dibilang musik indie. Ke indie dibilang musik major karena dianggap pop banget, dari situlah muncul rasa keterasingan. Dari situ juga kita nekat bikin album sendiri. Do it your self.
Ada nama Pete Braven pada halaman bio kalian di reverbnation.com. Sebenarnya siapa dia?
Pete Braven adalah orang yang membuka mata kami tentang musik. Dia bilang kalau musik bukan hanya bisa dimainkan di Indonesia saja tapi bisa di mana saja. Maksudnya musik tidak hanya didengar oleh orang di Indonesia saja. Setelah kami membuat materi untuk album pertama, rata-rata masukan yang masuk seperti ini: wah musik kalian bagus, tapi.. ngga bisa dijual kaya’-nya disini, bagus tapi.. Bahasa Inggris, bagus tapi apa lah. Selalu ada tapinya, dan tapi-nya itu mengarah pada industri musik Indonesia. Nah, si Pete Braven ini yang bilang, sikat aja! Dia salah satu motivator pertama kami hingga Strangers berjalan sampai sekarang.
Kapan merilis album kedua?
Kami lagi nge-godok musik buat album kedua kami. Di album ini kami menambah unsur yang lain dibanding album pertama, yang jelas musik yang kita suguhkan adalah musik ala Strangers. Kalau sekarang kami lagi proses recording single. Kemungkinan April nanti, kami akan merilis single yang berbau folk.
Kenapa rentang waktu pembuatan album kedua cukup lama?
Semua jatohnya lebih ke sarana, prasarana dan sumber daya manusia. Ketika kami menyelesaikan album pertama, dibutuhkan sumber daya manusia untuk menjalankan itu, dari segi promosi dan macem-macem. Waktu itu bisa dibilang kami kekurangan tenaga, sehingga fokus kami berempat lebih ke urusan promosi bahkan ke segi bisnis bukan ke proses berkreasi. Alhamdulillah akhir-akhir ini kami mendapat bantuan dari temen-temen.
Persiapan album kedua seperti apa?
Tiga tahun ini kami nyiapin yang kami rasa ada kekurangan dari album pertama, dari segi bisnisnya dan segala macemnya. Soalnya ternyata bikin album dengan do it your self tuh banyak hal-hal yang harus dilakuin. Kaya’ evaluasi besar lah tiga tahun ini, soalnya pada album selanjutnya kami ngga mau main-main. Bicara dari segi manajemen tiga tahun yang lalu, kami belum ter-manage dengan baik. Ya intinya, sekarang kami lagi bikin fondasi yang kuat dengan tujuan akhir supaya kegiatan bermusik kami bisa lebih nyaman dan fokus.
Bagaimana rencana proses distribusi album kedua, apakah sama seperti album pertama?
Kalau album pertama kami melakukan direct selling. Kaya’ pas manggung bawa CD, merchandise dll. Mungkin pada album kedua kami akan lebih melebarkan sayap bekerjasama dengan distributor yang jangkauannya lebih luas. Kemungkinan kami akan tetap melakukan direct selling. Soalnya seru lah, kami bisa bertemu langsung dengan pembeli.
*tegang
[Robby/Rio]
Filed Under: Interviews









